Senang..
Gembira..
Allah baik sekali sama saya. Walaupun kondisi bed rest begini, saya masih di beri mimpi indah berdiri dan jalan-jalan.
Tunggu saya di sana yaaaaa..
Ada beberapa efek yang biasa terjadi setelah menjalani kemoterapi yaitu rambut rontok, antara lain : mual-mual, tidak berselera makan, badan lemas, rambut rontok, dan lain lain. Nah, sekarang saya mau berbicara tentang rambut rontok.
Sebelum memutuskan melakukan kemoterapi, Dokter onkologi saja sudah menjelaskan mengenai efek-efek yang timbul karena terapi kemoterapi. Tentu saja dari saat itu, saya berusaha menyiapkan diri menghadapi efek-efek tersebut.
Untuk masalah mual, mau muntah, perut berasa maag, saya sudah bisa mengantisipasinya. Hal ini karena cukup berpengalaman saat melakukan 3 kali radiasi nuklir . Saya ingat sekali, sesaat setelah minum iodine 131, pasti akan muncul berbagai gejolak di perut heehehe.. Biasanya di antisipasi dengan minum obat mual dan maag.
Begitu pula menjalani kemoterapi ini, berbagai efek itu saya rasakan. Syukurlah dokter onkologi saya berbaik hati memberikan obat anti mual kelas kakap hehhe.. Kenapa saya bilang anti mual kelas kakap, karena selain topcer...harganya pun lumayan. Perbijinya seharga 137.500. Nama obatnya Nesea.
Nah.. kita berlanjut bicara masalah rambut rontok. Ternyata memang kerontokan itu pun terjadi saudara, tepatnya seminggu setelah kemoterapi pertama. Saat itu saya terkaget-kaget ketika mendapati rambut saya dengan begitu mudah rontok hehehhe..
Selain sempat kaget, saya juga agak sedih. Setelah bertahun tahun menjalani pengobatan kanker, baru kali ini menyaksikan rambut rontok lumayan banyak. Saya bahkan sempat curhat dengan teman sesama survivor kanker di group heheheh..
Tapi syukurlah...badai kaget dan sedih itu sudah berlalu. Walaupun rontok terus.. saya sudah bisa berlapang dada (hehehe.. jadi inget lagunya Sheila on 7). Apalagi para sahabat saya terus menerus menyemangati. Ntar kan tumbuh lagi rambutnya kalo botak. Wkwkkw..
Namun.. diantara cerita itu semua, tetap ada kehebohan yang terjadi di rumah bersama anak-anak. Ada aja faktor ketidak sengajaan yang mereka lakukan hingga membuat rambut saya tambah rontok. Dari Lupi yang tanpa sengaja narik rambut saya.. ( duh duh duh.. asli .. langsung rontok hihihi).
Terus Raisyah yang pengen ambil sesuatu dekat rambut saya... eh.. malah ketarik deh rambut. Haahhaha... Atau Arya yang pengen buktikan betapa mudahnya rontok rambut saya... (seperti uji kekuatan rambut wkwkwk).
Baiklahhhh..
Ayo semangat terussssss..
Alhamdulillah..
Saya udah melewati sessi pertama kemoterapi. Masih ada 5 kali sessi lagi yang akan dilakukan per 3 minggu. Selain itu harus tetap kemo tulang Bondronate sebulan sekali.
Hmmmm..
Lumayan panjang juga daftar terapi pengobatan kali ini. Belum lagi dengan efek kemoterapi yang lumayan mengaduk-aduk isi perut dan meluluhlantakan selera makan hehehe..
Tapi tenang saja.. masa adaptasi kemoterapi itu biasanya berlangsung kurang lebih seminggu pasca kemo. Bahkan ada pula teman yang tidak merasakan efek kempoterapi lho. Beruntung juga, dokter onkologi saya sangat baik dan sabar, khususnya menghadapi pasien yang rada rada ajaib seperti saya
Oh ya..
Pasca kemo itu memang berpengaruh besar sama selera makan. Keluarga di rumah berusaha paham dengan kondisi saya yang tidak stabil pasca kemo. Apalagi mama yang bolak balik nanya menu yang saya pengen makan heheheh.. Begitu juga bapak yang saban saat masuk ke kamar untuk sekedar nanya gimana kondisi saya.
Suami dan anak-anak terlebih lagi paling heboh. Kadang tanpa di minta, mereka langsung tanggap mau membantu apa saja untuk saya. Teman-teman juga begitu. Bahkan ada yang sengaja datang ke rumah untuk jenguk sekaligus ngajak bercerita. Bagi teman yang jauh juga begitu, mereka tetap jalin komunikasi melalui telpon ataupun medsos.
Alhamdulillah..
Sudah seminggu melewati pasca kemoterapi pertama. Selera makan pun semakin membaik. Karena itu, saya tidak menyia nyiakan kesempatan untuk makan yang banyak dan enak. Hehehe.. Paling tidak saya harus tetap kuat dan fit untuk menjalani kemoterapi selanjutnya.
Mohon doa ya teman-teman,
Semoga Allah senantiasa memberikan saya kesabaran, kekuatan dan selalu bisa terus tersenyum menjalani semua ini.. amin amin
Hmmmm..
Rasanya sudah lama tidak menulis di blog ini. Ada beberapa pembaca yang protes karena saya tidak mengisi postingan terbaru. Maaf ...maaf.. belakangan ini saya terlalu asyik berjibaku dengan blog www.yunisukses.com . Terlebih ada beberapa agenda lain yang harus di kerjakan.
, termasuk menjalani pengobatan yang cukup menguras waktu, tenaga dan air mata hhhehhe.. mulai lebay deh..
Baiklah.. saya akan bercerita lagi mengenai perkembangan pengobatan saya. Seperti yang saya pernah ceritakan sebelumnya, saya sudah menjalani serangkaian pengobatan yang panjang. Waktu itu saya berharap semua pengobatan itu akan memberikan hasil yang sesuai harapan.
Namun Allah masih memberikan ujian lagi kepada saya. Di tengah perjalanan pengobatan tersebut, ternyata ada muncul metastase baru berupa
benjolan di tulang belakang yang ketahuan setelah di lakukan MRI. Jujur saja, saya sempat sedih dan down. Apalagi seiring ketahuannya metastase baru itu, saya sudah sulit duduk atau berdiri. Kegiatan hanya banyak dilakukan di ranjang saja.
Walau begitu, saya berusaha tetap semangat dan tenang. Saya tetap menulis dan melakukan support kepada teman teman survivor dengan bantuan handphone maupun sosial media. Terus berusaha menjaga komunikasi dengan teman teman sesama survivor, ternyata cukup ampuh mempertahankan semangat juang heeheh..
Saya pun kembali berdiskusi dengan dokter onkologi saya yang sangat sabar dan baik hati . Akhirnya diputuskan saya di opname di rumah sakit sambil dilakukan observasi kembali. Apalagi memang rasa nyeri yang cukup menganggu tidak mempan hanya diberikan obat pain killer.
Dari hasil diskusi dengan dokter, disimpulkan kalau sebaiknya saya di berikan tambahan pengobatan berupa kemotrapi sebanyak 6 x yang dilakukan per 3 minggu. Kemudian tetap kemo tulang sebulan sekali. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran kanker lebih luas. Apalagi saat ini di paru paru saya juga sudah ada metastase selain di tulang belakang.
Baiklah..
Perjuangan belum selesai.
Mohon doa dan dukungannya ya teman teman semuaaaa..
Time to Melow..
Jangan protesnya dengan judul di atas, kesannya amburadul banget bahasa inggrisnya. Saya ngga mungkin ngeles deh.., sejak jadi emak-emak, bahasa inggris itu jadi sesuatu yang langka untuk di ungkapkan hahahah... Terlepas dari profesi penulis yang disandang, ternyata tidak bisa di campur adukan dengan kemampuan bahasa Inggris :D
Kadang kalau pas Blog Walking alias BW alias jalan jalan ke blog teman teman, saya suka kagum sendiri mendapati sebagian teman yang keren banget bahasa Inggrisnya. Padahal profesi sama lho, yaitu emak-emak, tapi dia lebih jago bahasa Inggris ketimbang saya hehehe..
Lho.. lho., kok malah buka tabir tersirat tentang bahasa Inggris dan kaitannya dengan judul postingan ini ya hehehhe.. Baiklah, kita balik ke cerita sesungguhnya mengenai hikmah judul time to melow. Maksudnya sih judul tulisan ini mengenai saat saya sedang melow tingkat dewa hahahha..
Saya tahu, ngga setiap saat manusia khususnya kaum perempuan bisa kuat dan tangguh menghadapi masalah. Adakalanya, ia merasa rapuh dan cenderung buat melow. Ya nggak usah jauh-jauh, sayalah contohnya. Kemelowan saya ini bisa ditelusuri dari sebab akibat yang berupa :
A. Badan udah beberapa hari ini ngga nyaman. Pinggang kaki ngga nyaman dengan ngga jelas. Di bawa jalan salah, dibawa duduk salah, apalagi di bawa tidur. Apalagi badan bentol bentol ngga jelas karena alergi.
B. Mau puasa full nga bisa, karena masih ketergantungan obat anti nyeri. Pernah nyoba ngga minum, alkisah menangis meraung raung tanpa jelas nahan sakit.
C. Dapat kabar teman survivor meninggal dunia. Bikin syok juga, sampai mikir buat siap siap aja.. kapan ya waktuku..
D. Berbagai tagihan tagihan yg belum beres hehehehe
E. De el el.....
Wah kalo diterusin, bakal banyak list kegalauan yg bikin melow saya. Jadi biar di stop sampai poin E saja heheheh...
Namun yang buat melow krn bahagia, pas saya lagi lemes di ranjang sambil nahan nyeri, Raisyah datang membawakan sepiring nasi.
" mama belum makan kan?" Tanyanya dengan suara khasny. Saya menggeleng. Gimana mau makan, wong berdiri aja susyeeeh..
"raisyah bawain makanan buat mama, biar mama cepat sembuh", kata Raisyah lagi.
Saya langsung meneteskan air mata haru mendengarnya. Saat anak seusia Raisyah sibuk bermain, Raisyah malah memilih menemani saya.
" Eh bentar dulu, sayang," kata tiba tiba
"Kenapa lagi,ma?"tanya Raisyah bingung.
"Mama foto Raisyah dulu yaaa.." hihhihi... ulah narsis aaya muncul deh :)
Ya sudah...
Melow nya sudah saya stop
Saya ngga melow lagi dehhh
"Arya, bisa temanin mama?"tanyaku pada Arya, sambil menahan sk nafas.
"Ke UGD ya , ma?" Tebak Arya sambil melihat reaksi wajah mukaku yan berubah.
Aku pun mengangguk. Dengan masih rasa tidak nyaman di dada, aku segera menelpon om Ucok, ojek langganan. Tidak lama om Ucok datang, dan membawaku serta Arya menuju rumah sakit umum.
###
Arya..
Anak lelakiku yang selalu siap sedia mendampingi kalau aku ke dokter. Maklumlah, papanya bekerja di luar daerah, tidak setiap saat berada nersama kami. Jadi Arya yang menjadi pendampingku saat kondisi seperti semalam.
Selain Arya, Raisyah adiknya, juga senang sekali menemaniku ke dokter atau ke rumah sakit. Bagi mereka, menemani mamanya, merupakan kebahagiaan tersendiri.
Terkadang,
Saya merasa bersalah membuat mereka harus melihat dan menemani saya dalam keadaan yang lagi tidak nyaman. Biasanya saya berusaha untuk menemani mereka atau berbagi cerita dengan mereka, untuk mengurangi rasa bersalah. Maafkan mama ya , nak :'(
Semoga Arya bisa terus menjadi anak yang soleh. Amin
"Mengapa judul bukunya Kanker Bukan Akhir Dunia?"
"Kok milih judul bukunya begitu sih? Kanker Bukan Akhir Dunia?"
"Judulnya tegas banget !"
"Saya suka judul buku Kanker Bukan Akhir Dunia. Optimis".
Entah begitu banyak lagi komentar keluarga, sahabat, teman bahkan pembaca buku Kanker Bukan Akhir Dunia yang saya tulis. Biasanya kalau sudah begini, saya harus menjelaskan mengapa memilih judul itu.
Sebenarnya ada beberapa alasan mengapa saya memilih judul itu. Tentu saja memilih judul itu berdasarkan dua sudut pandang. Pertama, sudut pandang saya sebagai penulis, dan kedua, sudut pandang saya sebagai survivor kanker.
Nah, dari sudut pandang sebagai penulis, saya belajar banyak dari para penulis penulis senior dan buku buku terkait penulisan hehehehe.. Pemberian judul pada karya khususnya buku, bisa dikatakan gampang gampang susah. Judul merupakan point penting dalam sebuah karya.
Biasanya, salah satu yang menarik perhatian pembaca pada sebuah buku dengan pertimbangan judul buku tersebut. Jadi pemilihan judul memang kadang memeras pikiran hehehe.. Bahkan ada penulis yang harus mencari inspirasi dulu demi mencari sebuah judul. Begitu juga dengan saya yang harus jumpalitan mencari judul buku.
Sehingga saya pun akhirnya memilih judul Kanker Bukan Akhir Dunia. Judul yang pas dan langsung menggambarkan isi hati saya sebagai survivor kanker. :). Ya, saya memilih judul ini memang ada banyak pertimbangan juga.
Selaku survivor kanker, saya mengerti bagaimana perasaan seseorang saat menerima vonis kanker pertama kalinya. Rasanya seperti gado gado, campur sari tidak menentu. Galau, gelisah, sedih, kaget, syok, pokoknya macam macam deh. Bahkan ada pula yang menganggap kanker itu sebagai vonis bahwa hidup tidak lama lagi dan tidak ada kesempatan untuk sembuh .
Setelah melewati berbagai proses dan waktu, ada saatnya seorang survivor kanker itu bisa iklas menerima vonis tersebut. Namun ada pula yang belum bisa menerima vonis itu dan tenggelam dalam kegalauan tingkat tinggi. Dengan buku Kanker Bukan Akhir Dunia, saya coba menguatkan diri saya sendiri serta para pembaca lainnya, bahwa vonis kanker bukan berarti harga mati tidak ada masa depan. Bukan seperti itu...
Walaupun tervonis kanker, kita masih bisa terus berdoa, berikhitar dan berusaha. Banyak cara yang bisa ditempuh setelah tervonis kanker khususnya dalam menjalani pengobatan untuk mencapai kesembuhan. Kita pun masih bisa melakukan hal-hal yang bisa dilakukan orang yang normal, tentu dengan tidak memaksakan diri sesuai dengan kondisi tubuh. Atau bisa melakukan hal-hal baik dan bahkan bisa berbuat kebaikan untuk sesama.
Terlepas apakah kita dapat sembuh ataupun tidak dari kanker, bagi saya itu urusan belakangan. Yang terpenting bagaimana kita bisa terus berdoa, berusaha, dan berjuang melawan kanker. Seiring perjalanan melawan kanker, kita bisa maknai dengan melakukan banyak hal baik dan positif lainnya. Biarlah untuk Masalah kesembuhan, kita pasrahkan kepada Allah... :)
Read MoreHari ini kembali menginjakan kaki ke puskesmas, untuk mengurus perpanjangan rujukan ke poli onkologi di rumah sakit umum. Rupanya ada beberapa peraturan baru yang berlaku per Februari kemarin.
Sembari menunggu petugas puskesmas membuatkan surat rujukan, kami pun berbincang sejenak. Petugas puskesmas ini seorang ibu yang cantik dan baik. Setelah berkali -kali saya kesana, beliau sampai hapal dengan saya.
Ia pun bercerita tentang dua saudaranya yang terkena kanker dan mengalami berbagai proses pengobatan panjang dan cukup.menguras tenaga dan biaya.
"Tetap semangat ya mba. Biar Allah yang menentukan,"katanya pada saya.
Saya mengangguk mengiyakan.
Semoga Allah mengabulkan.doa saya dan semua orang. Aminnnn.
Sore ini kembali mendengar berita duka dari seorang sahabat. Ibu Yetti, seorang ibu tangguh yang pernah saya kenal, telah meninggal dunia.
Saya mengenalnya tanpa sengaja. Waktu itu dokter Rudy, dokter onkologi yang menangani saya, kerap bercerita tentang Bu Yetti. Bu Yetti adalah survivor kanker yang benar benar tangguh dan selalu bersemangat melawan kanker.
Hingga suatu ketika, kami di pertemukan dalam sebuah session kemo tulang di ruang kemotrapi RS A wahab Syahranie. Saya benar benar kagum dengan semangat Dan antusias bu Yetti.
Walaupun harus menjalani berbagai pengobatan, ia terus semangat dan menginspirasi banyak orang. Sejak saat itu, kami berdua saling berkomunikasi satu sama lain untuk memberi kabar dan menguatkan..
Selamat jalan sobat,
Semoga Allah senantiasa memberikan tempat terbaik untukmu...
Aminnnn...
Ingin belajar dan bisa menulis kisah-kisah yang penuh inspiratif? Kisah inspiratif yang di ilhami dari kisah nyata yang mampu menginspirasi pembaca dan mengandung banyak hikmah? Yuk, silahkan mengikuti Kelas Menulis Online LIFE SURVIVAL "Menulis Kisah Inspiratif" :
Waktu pelaksanaan :
Rabu, 4 Maret 2015, pukul 19.00-22.00 WIB.
Syarat Pendaftaran :
- Peserta merupakan survivor ataupun keluarga dari survivor (bisa orang tua, anak, saudara atau sahabat dari survivor)
- Peserta melakukan pendaftaran melalui Inbox FB: Tri Wahyuni Zuhri di https://m.facebook.com/tri.w.zuhri
- Pendaftaran akan di tutup setelah quota peserta terpenuhi.
MetodeBelajar:
1. Peserta belajar secara online selama 3 jam
2. Materi akan diberikan saat kelas berlangsung
3. Peserta kursus akan diundang ke grup khusus di FB untuk berdiskusi dengan pengajar.
4. Peserta diberi kesempatan konsultasi dan mentoring selama 1 bulan dengan dengan materi yang dipilih.
Pemateri : Tri Wahyuni Zuhri
Tentang Pemateri :
TRI WAHYUNI ZUHRI, penulis, blogger dan survivor kanker. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Brawijaya Malang. Mulai menekuni dunia penulisan sejak sekolah dan tulisannya tersebar di berbagai media cetak, antara lain majalah Kartini, majalah Sekar, Harian Republika, Mom & Kiddie, My Mommy, Majalah Potret, Banjarmasin Post, Kaltim Post, Tribun Kaltim, Harian Singgalang, Nakita, dll.
Peraih penghargaan Perempuan Terinspiratif IIDN tahun 2014 dan memenangi berbagai perlombaan penulisam ini, sudah menghasilkan banyak karya buku. Namanya pun masuk dalam Buku Profil Perempuan Pengarang dan Penulis Indonesia (Penerbit Kosa Kata Kita, 2012) dan Buku Biografi Pengarang Kalimantan Timur (Pustaka Spirit, 2008).
Beberapa karyanya pun telah di bukukan secara antologi dan solo, yaitu : “Tidak Cukup Hanya Cinta” (penerbit Araska, 2008), “PERCA” (Penerbit BWC-JPK, 2010) , Kumcer “BADADAI” (Penerbit Araska-JPK , 2010), Cobek Digital Mom (Penerbit Mom Creative, 2011), Anak Nakal atau Anak Banyak Akal? (Penerbit Elex Media, 2011), Kehamilan Yang Menakjubkan (Penerbit Leutika Prio, 2012), For The Love Of Mom (Penerbit Etera, 2012), Ketika si Buah Hati Bertanya (Iklas Media, 2012), Curhat Bisnis (Penerbit Calista, 2013), Storycake Story of Your Life Mompreneur (Penerbit Gramedia, 2013), Kiki si Kijang kuning (Andi Publishing, 2014), Kanker Bukan Akhir Dunia (Elex Media, 2014), dll.
Selain aktif sebagai menulis, ia pun kerap diundang menjadi pembicara dan menjadi juri dalam kegiatan terkait dunia penulisan. Ia bergabung di dalam berbagai komunitas penulisan Studio Kata, Perempuan Penulis Kaltim (PPK), Ibu-ibu Doyan Nulis Kaltim (IIDN), Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB). Saat ini ,ia aktif memberikan edukasi mengenai kanker kepada masyarakat secara langsung maupun melalui media. Blog http://www.yunisukses.com atau http://www.triwahyunizuhri.blogspot.com
Read More
Selama menjadi seorang survivor kanker, tentu banyak hal yang berubah dalam hidup saya. Salah satu perubahan yang cukup signifikan yaitu pada kemampuan fisik khususnya dalam hal berjalan dan bergerak. Saya pun banyak terbantu oleh tongkat, korset ataupun kursi roda kalau perjalanan jauh.
Penyakit Kanker yang sudah bermetase ke tulang belakang, memang cukup menganggu mobilitas gerak menjadi lebih lambat, ataupun kesulitan naik tangga walaupun hanya beberapa jejak tangga. Ya, saya tetap terus bersyukur, masih bisa melakukan aktifitas terbatas, mengingat saya pernah nyaris lumpuh beberapa waktu lalu .
Nah, ada saja hal-Hal yang menarik, lucu atau bahkan menyedihkan tentang ini. Salah satunya saya alami beberapa waktu lalu . Saat itu Raisyah mengalami sakit batuk yang tidak kunjung sembuh. Akhirnya saya memutuskan untuk membawanya ke salah satu klinik praktek dokter umum .
Saya sudah lama tidak ke klinik tersebut, karena selama ini saya lebih banyak berobat langsung kerumah sakit umum. Singkat cerita saat mendaftar di bagian pendaftaran, mba yang bertugas meminta saya mengisi data pribadi Raisyah.
"Sebentar ya, bu. Ibu nanti naik Tangga ke lantai dua. Dokternya praktek di lantai dua,"jelas si mba dengan wajah manisnya.
"Lho, bukannya praktek dokter umum cukup di lantai 1?"Tanya saya bingung sembari membayangkan betapa menguras energinya harus menyisiri naik ke lantai dua .
"Memang di lantai satu, bu. Tapi dokternya lagi Ada pasien di lantai dua, jadi sekalian semua pasien diarahkan kesana".
Saya terdiam sejenak,"begini mba, saya tidak bisa naik tangga karena adalah masalah pada tulang belakang. Syaraf saya terjepit. Apa bisa saya tetap berobat di lantai satu saja?"tanya saya.
"Bentar ya, bu. Saya tanyakan dulu,"kata si mba sambil menelpon ke lantai dua.
Tidak lama kemudian telah ada jawaban dari si mba,"iya bu. Tunggu saja ya. Nanti dokternya turun ke lantai 1,"jelas si mbak.
Saya pun bernafas lega dan membawa Raisyah menunggu di ruang tunggu dokter di lantai 1. Tak lama sang dokter turun dari tangga dan menuju ruang prakteknya.
Sebentar kemudian, nama Raisyah di panggil perawat dan kami berdua masuk kedalam ruangan.
"Maaf ya, dok. Saya tidak bisa naik tangga. Jadi nggak bisa menemui dokter ke lantai 2,"kata saya membuka pembicaraan. Dokter hanya membalas sekedarnya dan segera memeriksa Raisyah dengan teliti. Sambil menuliskan resep, saya pun bertanya lebih lanjut tentang sakit raisyah yang ternyata memang sakit batuk yang cukup mengganggu.
"Ibu sakit apa?"tanya si dokter tiba-tiba. Terus terang saya cukup kaget dengan pertanyaan di dokter. Mungkin dokter cukup penasaran kenapa saya tidak mau naik tangga untuk ke ruang prakteknya di atas.
"Oohh.. saya ada masalah ditulang belakang, dok. Seperti syaraf kejepit,"kata saya. Saya memang jarang mengungkapkan sakit kanker saya pada orang lain. Biasanya saya memang melihat situasi juga.
"Sakit syaraf kejepit itu jangan di biarkan, bu. Apalagi ibu masih usia produktif, kalau sudah tidak bisa naik tangga, itu harus di waspadai,"jelas si dokter lagi.
"Maaf dok, saya masih bisa kok naik tangga. Tapi harus butuh tenaga extra,"aku saya dengan jujur.
"Iya, saya tahu bu. Tapi ibu kan masih usia produktif. Lain halnya kalau sudah nenek nenek. Wajar kalo susah naik tangga," kata si dokter lagi. Jlebb ! Alamak, kenapa pula dokter ngomongnya ngaitkan usia produktif saya dengan ketidak mampuan saya naik tangga secara normal.
Saya hanya diam sejenak mendengarkan penjelasan dokter yang panjang lebar tentang penyakit tulang belakang dan syaraf terjepit. Saya sempat berfikir, apa mungkin si dokter kesal ya karena saya tidak naik tangga menemui dia. Terlebih melihat kondisi saya yang masih muda seperti ini. Hhhmmm.. dalam hati saya juga sedikit menyesal, kenapa lupa bawa tongkat kebesaran untuk menandakan kalau saya memang sedang sakit. Hehehhe...
Cukup lama juga dokter dengan semangat berapi-api menjelaskan tentang masalah syaraf. Termasuk memberi masukan apa saja yang harus saya lakukan dalam berobat di usia masih produktif.
Memang dasarnya saya lagi sensitif Kali ya... berkali-kali dokter bicara ten tang kaitan usia produktif perempuan dengan ketidak mampuan bergerak normal, membuat saya cukup sensitif. Saya pun segera mengambil langkah dramatisir untuk menutup penjelasan dokter agar penjelasannya tidak melebar kemana-mana.
"Maaf dok. Syaraf kejepit saya bukan hanya karena Masalah tulang belakang. Saya seorang survivor kanker stadium lanjut yang sudah metase ke tulang belakang. Jadi itu yang membuat saya tidak bisa bergerak normal,"jawab saya pelan sambil menahan emosi.
Dokter tersebut langsung terdiam mendengar penjelasan saya barusan. Saya tangkap ada raut rasa bersalah di wajahnya. Mungkin ia merasa bersalah karena menceramahi saya panjang lebar tanpa tahu penyakit saya sesungguhnya.
"Oh maaf, bu. Saya tidak tahu kalau penyebabnya dari sakit kanker ibu,"jawabnya dengan pelan.
Saya hanya tersenyum mendengarnya. Dan dengan segera saya berpamitan keluar ruangan praktek sambil menggandeng Raisyah.
Perkataan dokter tentang usia produktif saya ternyata cukup mengusik saya. Walaupun saya tahu, si dokter menceramahi saya tanpa tahu kondisi sakit kanker saya terlebih dahulu. Mungkin kalau dari awal saya bilang sesungguhnya tentang kanker yang saya derita, tentu dokter itu tidak akan sesemangat itu menceramahi saya.
Saya melirik ke arah Raisyah yang sedari tadi tidak lepas menggandeng saya. Saya memang menbenarkan apa kata dokter itu. Di usia saya yang masih produktif ini, seharusnya saya bisa melakukan banyak aktifitas normal seperti layaknya ibu muda lainnya. Menemani anak, mengantar jemput anak sekolah, mengajak mereka jalan-jalan dan sebagainya. Tapi itu semua tidak bisa saya lakukan dengan baik mengingat kondisi fisik yang tidak memungkinkan.
Saya mulai merasakan hati terasa teriris iris kembali setelah sekian lama saya berusaha tetap tegar dengan kondisi yang ada. Kata-kata si dokter tadi cukup menghujam perasaan sensitif saya yang lagi lebay.
Sambil menunggu di bangku apotik, perlahan saya memeluk Raisyah sambil berbisik padanya,"Maafkan mama, sayang. Mama akan terus menyayangimu dengan cara mama sendiri". Tak terasa tetesan air mata itu jatuh di kedua pipi saya...
![]() |
| Raisyah di depan Ruang Kemotrapi AWS |
![]() |
| Gagal Pasang Infus.. Sakit :( |
![]() |
| Raisyah dan peralatan Perang |
![]() |
| bantal andalan |
![]() |
| hadiah novel kuis |
![]() |
jawaban kuis saya |
![]() |