Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 September 2015

Like Mother, Like Daughter - #Keping 148

Begitu melihat saya dan Raisyah, banyak orang menilai kami kembar.  Raisyah seperti fotokopian saya. Wajahnya, senyumnya, matanya, dll.. Kalo orang melihatnya, pasti akan tahu kalau Raisyah anak saya hehehe..

Saya punya cerita menarik mengenai miripnya wajah saya dan Raisyah.  Waktu awal saya di vonis kanker hingga beberapa waktu kemudian, kondisi fisik saya semakin tidak menentu.  Entah mengapa, tiba-tiba julak saya berkomentar mengenai miripnya wajah saya dan Raisyah.

"Mukamu dan Raisyah itu mirip. Mungkin itu juga yang buat kamu sering sakit," kaya Julak saya saat itu.

"Mengapa bisa begitu, julak?" Tanya saya heran plus penasaran.

"Iya, kalau wajah ibu sama anak perempuan mirip, atau wajah bapak sama anak lelaki mirip, itu bisa kuat-kuatan,"jelas julak.

"Kuat-kuatan?" Saya langsung mengernyitkan dahi. Kaya main benteng-bentengan aja hehehe. Siap kuat itu yang menang hahaha.

"Kalo mirip, nanti pasti ada salah satu yang kuat dan ada yang lemah. Yang lemah ini bisa sakit. Jadi harus di jual anakmu,"lanjut julak lagi.

"Haaaa? Dijual?"saya tambah kaget. Gimana ngga kaget kalo pakai acara jual anak segala. Raisyah anak perempuan satu satunya. Masa mau di jual.

Seperti mengerti kegalauan saya, julak langsung menjelaskan panjang lebar,"Iya, di jual cuman syarat aja. Jualnya juga sama keluarga atau saudara. Hanya untuk akad di mulut saja".

Saya waktu itu hanya terbengong-bengong mendengar penjelasan julak.  Tapi setelah julak pulang dari rumah, barulah saya berfikir panjang.

Saya memang pernah dengar acara jual anak hanya sebagai syarat seperti itu. Bahkan beberapa orang yang saya kenal pernah melakukannya.  Tujuannya untuk mengurangi ada yang sakit di antara ayah dan anak lelaki yang mirip wajahnya, atau ibu dan anak perempuan yang mirip.

Caranya juga sederhana.  Ada  pihak keluarga atau saudara yang seakan akan ingin membeli si anak dan melakukan transaksi kepada orang tua si anak. Ketika melakukan transaksi pun harus di ucapka  akadnya. Misalnya, " saya akan membeli anakmu si ..... dengan uang ....  ".  Nah, untuk besaran uang pun tergantung kesepakatan kedua belah pihak sebelumnya.

Selain itu, uang yang di terima oleh si orang tua anak yang di jual itu, sebaiknya di belikan makanan.  Makanan itu berupa kue-kue yang mengembang, contohnya kue kucur atau kue bingka.  Tujuannya agar rejeki menjadi lebih baik.   Ada pula yang menggunakan sebagian uang hasil penjualan di masukkan kotak sedekah.

Read More

Kamis, 22 Januari 2015

Hidup Ini Sebuah Proses Belajar - #Keping 112



Video Album Cinta Untuk Anakku - From Youtube
Dulu,
Sewaktu kecil...
Saya senang sekali menonton kisah kisah para putri yang melegenda. Sebut saja Cinderella, Putri Salju, Putri Aurora, serta banyak lagi.

Alur cerita yang begitu apik di ramu oleh penulisnya, membuat saya dan mungkin bagi sebagian besar anak anak kecil seusia saya, ingin memiliki kehidupan para putri itu. Walaupun mereka awalnya hidup dengan susah antara lain punya ibu tiri atau saudara tiri yang jahat. Toh, akhirnya mereka bahagia bertemu pangeran dan hidup bersamanya.

Ternyata saat saya bertambah umur, saya menyadari bahwa pemahaman tentang kebahagiaan bukan berhenti saat putri bertemu dengan pangeran dan menikah. Menikah adalah langkah awal untuk memulai hidup lembaran baru yang membuat kita harus terus belajar dan belajar.

Pelajaran ten tang menikah, berlanjut lagi ketika memiliki anak. Dulu, pernah berfikir kalau menikah dan memiliki anak.adalah kebahagiaan yang tetap. Padahal setelah itu adalah proses panjang yang harus membuat kita belajar lagi. Belajar menjadi orang tua yang baik memang tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin terjadi bila kita berusaha.

Secara pribadi, saya terkadang menyelipkan berbagai pelajaran moral kepada anak anak saya. Saya memang ingin mereka bisa menikmati waktu anak anak mereka dengan penuh semangat dan kebahagiaan. Tetapi saya juga menyelipkan ten tang masalah akhlak, kemandirian, tanggung jawab, percaya diri,.saling menghargai, menghormati.

Saya tahu,.kadang hidup tidak melulu tentang rasa nyaman dan bahagia. Ada waktunya bergejolak dan di hadapkan masalah bertubi-tubi. Saya berharap saat anak anak berhadapan dengan berbagai fase dalam hidupnya, saya selalu ada bersama mereka, hingga mereka benar-benar mampu menghadapinya sendiri dengan kekuatan yg mereka miliki.

Setiap orang boleh berharap dan berdoa, kan? Walaupun tetap Allah pula yang menentukannya.smile emotikon. Jadi, saya berusaha menikmati saja setiap detik, menit, jam dan hari-hari saya bersama anak-anak selagi Allah masih mengijinkan
Read More

Minggu, 10 Agustus 2014

Temani Sampai Aku Besar, Ma - Keping #39

"Ma, tempo hari aku nonton film Pupus di tivi,"kata Arya tiba-tiba.

"Film Pupus? Bukannya itu film orang dewasa? Haa.. ngapain Arya nonton film itu?"tanya saya sewot.

Tumben-tumben Arya nonton film yang di bintangi salah satu adik kembar artis Nadine Chandrawinata (bener gini ya nulisnya? hehhehe). Biasanya Arya nonton spongebob, tom jerry, dll.

"Filmnya tentang kanker, ma," jawab Arya sambil menatap saya.

Saya kala itu hanya terdiam. Rupanya tema kanker yang diangkat menarik perhatian Arya.

"Filmnya sedih, ma. Di film itu, cowoknya kena kanker, tapi ceweknya nemanin terus sampai berobat," lanjut Arya kemudian.

Well, sebenarnya kejadian seperti ini sudah sering terjadi. Ada beberapa film atau sinetron yang menggambarkan si tokoh terkena kanker.  Saya sendiri tidak pernah menyuruh Arya menonton tayangan seperti itu. alasannya sederhana, tayangan itu memang bukan konsumsi untuk anak seusia Arya.

Namun rupanya Arya bisa menilai sendiri tayangan tersebut. Daya tarik tayangan itu bukan karena aktor atau aktris pemerannya yang cakep dan cantik. Bukan, bukan itu. Arya rupanya menontonnya karena si aktor atau aktris memerankan tokoh yang sama dengan emaknya, yaitu sama sama kena kanker. Walaupun kadang saya berharap Arya menontonnya bukan alasan kanker.  Tapi karena emaknya secantik pemeran aktrisnya .hihihihi (ngarap dehhh).

Sebenarnya, membicarakan kanker dengan anak seusia Arya dan Raisyah, adiknya memang tidak mudah. Urusan kanker bukan hal sepele, apalagi bila  itu berkenaan dengan orang yang kita sayangi seperti orang tua, kluarga atau sahabat. 

Awalnya saya tidak ingin Anak anak tahu tentang penyakit saya. saya tidak ingin diusia mereka yang seharusnya menikmati masa kecil yang indah seperti saya dulu, malah terbebani dengan krnyataan bahwa kanker telah berada dalam tubuh emaknya tercinta.

Tapi, lambat laun saya berusaha menjelaskan kondisi saya kepada anak anak. Saya tidak mungkin menahan siapa pun orang yang menjenguk saya dan meminta mereka menutupi kondisi saya. Akhirnya saya putuskan menjelaskan kepada anak anak tentang kondisi saya. saya tidak ingin mereka tahu dari orang lain dan berfikir bahwa emaknya sekarat karena kanker hehehe... lebay dehh...

Saya ingin mereka tahu, walaupun kondisi saya yang tidak seperti dulu, saya tetap menyayangi dan mencintai mereka. Saya ingin mereka tahu, walaupun kadang saya tidak bisa sering menemani mereka jalan jalan atau aktifitas lainnya, doa dan dukungan saya selalu ada untuk mereka. Saya ingin mereka tahu, walaupun kadang saya harus bolak balik ke dokter dan rumah sakit, saya terus memikirkan mereka. Saya ingin mereka tahu, walaupun saya kadang begitu lebay menahan sakit nyeri dan minum seabrek abrek obat, saya masih punya semangat hidup untuk mendampingi mereka.

Memang tidak mudah menjelaskan semua itu kepada anak anak. Saya berusaha menjelaskannya dengan bahasa seorang emak dan anak yang biasa kami lakukan. Mungkin ada berapa hal yang berbeda akibat kanker yang saya derita. Tapi semua tidak akan menghilangkan atau menurunkan rasa sayang dan peduli saya sebagai seorang emak kepada anaknya. Naluri saya dan kasih sayang saya  sebagai seorang emak masih terus ada untuk mereka, dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun.

"Temani aku sampai besar ya, ma,"kata Arya sambil menatapku penuh harap.

Aku? Hanya bisa membelainya sembari menahan tangis yang akhirnya tumpah juga.
Semoga Allah mendengar doa dan harapan kita ya, nak. Ins ha Allah...

Read More

Senin, 31 Maret 2014

Papsmear ? Siapa Takut ! Keping #7





"Mau test papsmear? Apa tidak takut?" tanya mama suatu hari, saat saya menyatakan ingin melakukan test papsmear ke dokter kandungan.

Saya mengangguk pasti, "Iya ma, aku ingin coba test papsmear.  Mudah-mudahan aman saja".

Ada rona cemas dan ragu yang saya baca dari mata mama

"Kenapa sih harus cek papsmear segala?  Urusan pengobatan kanker tiroidmu kan belum selesai.  Nanti malah kepikiran, lho".

"Lebih baik mengetahuinya dari awal kan, ma.  Bukankah deteksi dini akan lebih baik dari pada telat," jawab saya diplomatis.  Mama saya hanya bisa mengangguk-angguk mendengar jawaban saya.

Well, sejak di nyatakan tervonis kanker tiroid beberapa waktu silam, saya memang agak sedikit lebih care sama kondisi tubuh saya.  Terkena vonis kanker tiroid stadium lanjut, membuat saya terasa 'tertampar', karena tidak memperhatikan sinyal-sinyal yang telah di berikan oleh tubuh, namun kerap saya acuhkan.  Karena tidak ingin terulang lagi, saya secara dini berusaha melakukan pemeriksaan sendiri pada kondisi tubuh saya.  Ya, termasuk memutuskan untuk melakukan papsmear di dokter kandungan.

Eitts.. , jangan parno dulu ya :)  Sebenarnya papsmear ini sangat di anjurkan untuk perempuan produktif yang telah menikah atau yang telah melakukan hubungan seksual.  Tujuan tentu saja sebagai deteksi dini pencegahan kanker serviks, yaitu kanker mulut rahim yang merupakan penyakit kanker mematikan bagi kaum perempuan selain kanker payudara.

Kenyataannya di Indonesia, tidak banyak perempuan yang paham mengenai papsmear dan apa manfaat dari papsmear.   Sebaiknya, test papsmear ini dianjuran dilakukan minimal 2 tahun sekali pada perempuan.   Dari test papsmear ini kita bisa mengetahui apakah adanya virus Human Papilloma (HPV) yang bisa berpotensi menjadi sel kanker serviks.  Sebenarnya virus HPV ini membutuhkan waktu yang cukup lama sekitar 10 tahunan lebih untuk berubah menjadi kanker.  Jadi, apabila bisa terdeteksi dari awal, tentu saja akan mempermudah proses penyembuhan serta mencegah berubah menjadi sel kanker serviks. 

Cara test pap smear ini sebenarnya bisa di lakukan di mana saja, antara lain di praktek dokter kandungan, di rumah sakit, bahkan ada pula di puskesmas.  Tentu saja asal tersedia alat yang di butuhkan serta tenaga medis yang memang ahli di bidangnya.    Saya sendiri memilih datang ke dokter kandungan untuk melakukan test papsmear ini dengan berbagai pertimbangan, salah satunya karena dokter tersebut sudah sering menangani saya saat hamil dan melahirkan.  

Sebelum di lakukan papsmear, biasanya akan di lihat dulu jadwal menstruasi oleh dokter.  Bila saat itu kita sedang menstruasi atau baru selesai menstruasi, biasanya dokter akan meminta kita menunda papsmear sampai kondisi benar-benar terbebas dari masa mensturasi :)   Untuk metode papsmear sendiri, dokter akan memasukkan alat khusus  melalui vagina (upps.. maaf), serta mengambil sedikit sampel dari dinding rahim.  

Setelah itu, hasil sampel pun akan dikirim ke laboratorium untuk di periksa lebih lanjut.  Biaya papsmear memang agak beragam.  Saya sendiri harus mengeluarkan dana sebesar Rp. 350 ribu untuk pengambilan sampel papsmear sekaligus pemeriksaan hasil sampelnya.  Untuk pemeriksaan laboratorium sendiri, dokter kandungan saya lebih memilih untuk mengirimkannya ke Surabaya,  sehingga memakan waktu 2 -3 minggu untuk mengetahui hasil papsmear tersebut.  Apabila dari hasil papsmear menunjukkan hasil normal, biasanya dokter akan menyarankan di lakukan vaksinasi untuk mencegah kanker serviks.  Vaksin ini di lakukan sebanyak 3 kali dengan rentang waktu tertentu.  Syukur alhamdulillah, hasil papsmear saya menunjukkan hasil yang bagus. 

Oh ya, untuk berbagai kasus-kasus tertentu,  misalnya  baru di ketahui seorang perempunan terlambat terdeteksi ataupun baru mengetahui kena kanker serviks, biasanya di tandai dengan berbagai gejala.  Misalnya saja terjadi pendarahan abnormal terus menerus, ataupun siklus menstruasi yang tidak beraturan seperti normalnya.  Apabila ada menemukan gejala seperti itu, jangan di diamkan.  Sebaiknya segera di periksa ke dokter yang memang menangani hal tersebut.  :)
Read More

Rabu, 19 Maret 2014

Cerita di Balik Ruang Kemo. Keping #6

Cerita di Balik Ruang Kemo

Beberapa teman bertanya pada saya, seperti apa rasanya berada di ruang kemo. Mungkin teman~teman berfikiran seperti saya dulu. Ruang kemo merupakan salah satu ruang yang kurang begitu asyik untuk di kunjungi, terlebih menghabiskan waktu di dalamnya.

Bila dihitung, hari kemarin merupakan yang ketiga kalinya saya berada diruang kemo. Dua kalinya saya melakukan pengobatan di ruang perawatan karena kondisi yang memang tidak memungkinkan. Total terapi yang saya lakukan sebanyak 5 kali. Saya memang rutin melakukan terapi suntik penguat tulang tiap bulannya. Ini dilakukan untuk terapi pengobatan metastase kanker tiroid yang sudah menyebar di tulang belakang. Obat yang digunakan yaitu Bondronate 6 ml. Diharapkan dengan terapi ini, kondisi tulang saya tidak mengalami kerusakan parah, dan bisa mengalami perbaikan tulang.

Memasuki infus tulang ke 5 ini memang sudah banyak kemajuan yang saya rasakan. Setidaknya rasanya nyeri dan sakit pada tubuh terutama pinggang, paha dan kaki sudah jauh berkurang. Walaupun demikian, saya masih harus tetap berhati hati dalam melakukan berbagai aktifitas. Mengingat saya sempat merasakan rasa sakit luar biasa dan nyaris lumpuh selama beberapa waktu.

Setiap berada di ruang kemo, selalu menyisipkan cerita yang berbeda. Kali ini saya sekamar dengan 3 orang ibu ibu sekaligus. Sedikit memberikan gambaran, di rumah sakit Umum A. Wagon Syahranie samarinda, ruangan kemotrapi terletak di samping ruang operasi utama. Ada beberapa kamar dalam ruangan kemo tersebut, dimana masing masing kamar terdapat beberapa ranjang, tergantung ukuran kamar. Saya kebetulan menempati kamar A, yang terdapat 5 ranjang. Untuk pasien laki laki maupun perempuan akan di pisahkan dan menempati ruangan berbeda.

Suasana ruang kemo ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Biasanya para pasien ada yang datang sendirian berobat, dan ada pula yang ditemani oleh kerabatnya. Kami sering kali berbagi cerita mengenai penyakit kanker yang di alami. Bahkan tidak jarang membagi pengalaman serta saling menguatkan satu sama lain. Tidak hanya itu, sambil menunggu obat infus yang masuk ke dalam tubuh, kami bisa saling berbagi cerita tentang topik hangat yang ada gosip entertainment artis, dll. Hehehe

Hari itu saya sekamar dengan dua orang ibu yang menderita kanker payudara, dan seorang lagi yang menderita kanker getah bening. Well, sekedar berbagi cerita, ternyata gejala dan pengobatan kanker itu berbeda beda bentuknya, bahkan untuk jenis kanker yang sama pun bisa berbeda. Seperti yang dialami kedua ibu yang sama sama mengalami kanker payudara. Ibu yang pertama, dimulai dengan gejala munculnya benjolan di payudaranya. Sedangkan ibu yang kedua merasakan payudaranya mengeras terlebih dahulu. Rangkaian pengobatannya pun berbeda.

Yang menarik, ternyata salah satu ibu yang terkena kanker payudara tersebut, juga menjalani terapi suntik penguat tulang seperti saya. Kanker payudara yang dialaminya ternyata telah bermetase ke tulang belakang. Sembari berbagi cerita,saya baru mengerti kalau ibu tersebut yang sering di ceritakan dokter onkologi pada saya. Walaupun jenis kanker berbeda, namun kami sama sama mengalami metastase yang sama ditulang belakang. Mengalirlah berbagai cerita saat kami mengalami masa nyaris lumpuh yang cukup menyakitkan karena sakit kanker.

Saya merasa tidak sendiri lagi mengalami fase tidak menyenangkan menghadapi kanker. Dengan saling berbagi dan menguatkan itu, membuat saya lebih optimis menjalani hari hari saya. Mungkin Allah sengaja mempertemukan kami berdua hari itu until saling berbagi dan mendukung.

Oh ya, di kamar kemo ini, saya mempunyai ranjang favorit. Setiap saat berada di kamar ini, saya selalu memilih ranjang yang sama dan terletak di sudut kamar.  Disamping ranjang itu, terdapat pintu tembus menuju kamar mandi. Saya tidak perlu repot repot berjalan jauh sambil membawa infus untuk ke kamar mandi hehehe. Selain itu, terdapat saklar listrik yang menempel di dinding dekat ranjang saya. Posisi ini memudahkan saya untuk memasang cash hp tanpa perlu menunggu antrian dengan pasien lain. Hehehe..
Read More

Sabtu, 08 Maret 2014

Dukungan dan Semangat itu Menguatkan

Saya memang ingin membagi sebuah cerita malam ini. Sebenarnya saya ingin menuliskannya kemarin, hanya saja masih terbawa suasana hari mengingatnya.

Sebuah inbox masuk ke FB saya dari seorang teman. Beliau turut memberikan semangat kepada saya untuk terus berjuang melawan kanker. Teman saya ini pun bercerita saat ini sedang mendampingi sang istri dalam masa pengobatan. Beliau bercerita bagaimana ia terus mendampingi istri dan terus memompakan semangat serta dukungan kepada istri.

Saya mengenal baik bagaimana sepasangan suami istri ini. Mereka keluarga yang harmonis, sakinah dan mawadaah. kebahagiaan mereka pun semakin lengkap dengan kehadiran buah hati yang Pintar, sholeh dan berbakti.

  Ujian sakit yang ada, diterima dengan lapang dada. Mencoba terus menerus berusaha, ikhtiar dan berdoa. Mereka sekeluarga saling mendukung untuk kesembuhan sang istri sekaligus ibu yang mereka cintai.

Saya sungguh salut dan bangga telah mengenal Sepasang suami istri ini, juga anak anak mereka.  Mereka memberikan Hikmah yang luar biasa bagi siapa saja yang mengenal mereka.  Dukungan dan semangat kepada sang istri, akan menjadi kekuatan luar biasa untuk perjuangan menaklukkan kanker. Ya, perjuangan itu bukan hanya dilakukan sang istri, tapi di dukung sepenuhnya Oleh suami, anak anak, keluarga dan orang orang terdekat.

Mungkin bila ada orang yang bertanya tentang cinta pada saya, Maka saya akan menjawab Cinta itu seperti pasangan suami istri teman saya ini.  Dimana mereka akan saling mendampingi, mendukung, menyupport, memberikan semangat dan kekuatan. Mereka akan saling bergandengan tangan. Tidak peduli keadaan itu bahagia, gembira, sulit, sedih ataupun menangis.

Terus berjuang menghadapi semua ini. Banyak dukungan dan doa dari kami semua untuk menjalani semua . Semoga Allah senantiasa Memberikan kemudahan dan memperlancar segala urusan. Amin...

Read More

Rabu, 25 Desember 2013

Apakah Mama Akan Meninggal?



Tentang Fenomena Sinetron dan Film Indonesia



"Apakah mama akan meninggal?" Tanya anak saya suatu hari.
"Maksudnya seperti apa?"Tanya saya bingung. Terus terang saya cukup kaget mendengar pertanyaannya.
"Seperti di film itu, Ma. Dia kena kanker, dan akhirnya meninggal,"jawab anak saya pelan.
Hohohoho..rasanya pertanyaan itu menghujam tepat di jantung saya. Rupanya fenomena film dan sinetron Indonesia sekarang yang kerap menampilkan tokoh sakit kanker dan buntut-buntutnya meninggal, menjadi perhatian anak saya. Ia pun lalu menyamakan penyakit kankerku dan kanker si tokoh tersebut.
Well, memang rasanya sangat dramatisir sekali, ketika suatu kisah seorang pasangan muda yang mana salah satunya sakit kanker. Kisah-kisah mengharukan terurai panjang diantara mereka. Bagaimana perjuangannya menghadapi kanker di dampingi sang kekasih tercinta. Bagaimana kekuatan cinta yang akhirnya membuat ia rela menerima kondisi pasangannya dengan iklas dan dibumbui romantika cinta yang manis dan tulus. Atau ada pula yang mengisahkan sepasang anak muda, dimana sang cowok memutuskan sepihak si cewek hanya karena tidak ingin si cewek sedih mengetahui ia sakit kanker. Walaupun akhirnya si cewek pun tahu si cowok terkasih terkena kanker saat detik-detik terakhir ia akan meninggal.
Ah.. Sinetron dan film memang selalu berbumbu romantika. Padahal terkadang tidak seperti kenyataannya. Banyak pasien kanker yang akhirnya bisa kuat dan survive sampai sekarang. Banyak pasien kanker yang akhirnya bisa menerima dan iklas menjalani vonis kankernya.
Kanker seolah-olah menjadi sebuah penyakit yang mematikan dan menakutkan bila di cermati dalam sebuah film dan sinetron. Tentu saja hal ini jadi semacam bias tersendiri, khususnya bagi masyarakat. Sehingga ketika masyarakat mendengar kata kanker, menjadi sebuah nightmare . Terlebih apabila mereka tervonis kanker. Bayangan-bayangan tentang kanker menjadi semacam keraguan tersendiri buat sembuh. 
Mengapa para sineas sinetron atau film tidak membuat kisah perjuangan pasien kanker yang bisa survive dan menginspirasi masyarakat. Oke lah, memang ada 1 atau 2 sinetron atau film yang seperti itu. Kalaupun akhirnya si tokoh meninggal, ia bisa meninggalkan berbagai cerita indah dan kebaikan semasa hidup. Tapi itu masih berbanding sedikit dengan sinetron atau film yang berakhir dengan kisah pilu dan sedih mengenai kanker.
Mengapa tidak menjadikan sinetron atau film sebagai edukasi bagi masyarakat mengenai pemahaman tentang kanker. Tentang bagaimana mereka berusaha survive hidup dan tetap berbuat manfaat bagi orang lain. Bukan sosok yang sakit-sakitkan dan cenderung menyulitkan heheheh.. Ups.. Ini sebenarnya hanya sekelumit kisah yang ingin saya ungkapkan melihat fenomena sinetron dan film sekarang.
"Ma..., mama nggak akan mati kan?"Tanya anak saya lagi.
"Hidup dan mati mama sudah di atur Allah. Kalau pun memang mama nanti meninggal, itu karena memang takdir dari Allah,"ujar saya berusaha menahan air mata.
Ah.. Saya tahu.. Anak-anak saya sangat kuat menghadapi kenyataan bahwa mamanya terkena kanker. Mereka tumbuh jadi anak-anak yang mandiri dan tidak cengeng. Mereka tidak protes bila saat-saat tertentu saya memang tidak cukup kuat menemani mereka bermain ataupun jalan-jalan.
Mereka tahu saya menyayangi dan mencintai mereka dengan cara yang mungkin berbeda dengan ibu lakukan terhadap anak-anaknya. Dengan keterbatasan secara fisik yang kadang tidak stabil, saya berusaha menemani mereka dan tentu saja mendoakan mereka. Bahkan ketika ditanya oleh siapa pun tentang sakit mamanya, mereka akan menjawab mama kena kanker. Mereka pun dengan lantang akan bilang mama sudah sembuh.
Allah sangat baik pada saya. Saat saya tervonis kanker, namun saya tetap berusaha kuat dengan memberikan anugrah anak-anak yang sehat, cerdas, mandiri dan perhatian. Semoga Allah senantiasa melindungi kami sekeluarga... Amin..

26122013
Read More