Ide ini muncul tiba~tiba saja di kepala saya. Ya, saya akan menuliskan diary sederhana di blog saya ini, dan memulainya dari Keping #1.
Sampai detik ini, saya seakan tidak percaya dengan vonis kanker yang saya hadapi setahun belakangan ini. Setahun bisa menjalani hidup bersama kanker, bagi saya sebagai keajaiban Dari Allah. Saya tidak akan bercerita secara detiil bagaimana rasa sakit dan nyeri yang saya hadapi. Atau dengan berbagai pengobatan yang cukup berliku liku. Hehehe.
saya hanya ingin bercerita, bahwa saya yakin Allah tidak asal memberikan penyakit ini untuk saya. Saya banyak menemukan bantam hikmah dan pelajaran dari penyakit kanker.
Salah satu hikmahnya, saya bisa lebih terbuka memandang dunia ini. Saya bisa melihat begitu besar perhatian keluarga, sahabat, teman, bahkan kenalan yang belum pernah saya temui. Dengan tulus mereka mendukung dan menyupport saya.
Well.. Ini lah cerita keping #1. Besok akan ada cerita yang lebih menarik lagi. Seriussss :)
Read More
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan
Rabu, 12 Maret 2014
Sabtu, 21 Desember 2013
Metastase Kanker pada Tulang : Waspadai Sakit Pinggang yang Terus Menerus
Metastase Kanker pada Tulang : Waspadai Sakit Pinggang yang Terus Menerus
Kali ini saya akan menulis hal yang lebih serius dari biasanya, tentu saja terkait asalah kanker. Saat di diagnosa penyakit kanker tyroid beberapa waktu lalu, posisi kanker saya sudah berada di stadium lanjut. Tentu saja ini seperti bom atom yang menghujam kehidupan saya ( bahasanya agak saya dramatisir dikit ya . )
Kanker saya sudah bermetastase atau menyebar ke tulang belakang, yang menyebabkan ada pengeroposan di bagian tulang belakang. Sebenarnya gejala metastase itu sudah sering saya rasakan sejak lama, yaitu rasa nyeri teramat sangat di daerah pinggang. Namun berhubung saya saat itu benar-benar SANGAT TIDAK TAHU ada kanker dalam tubuh saya yang sedang beraksi, hingga saya hanya berfikir sakit pinggang tersebut sebagai syaraf kejepit atau kurang minum air.
Padahal kalau dulu saya lebih mengerti tentang hal ini, tentu saja sakit pinggang tersebut tidak akan bertambah parah Tapi sudahlah, semua toh telah terjadi. Akhirnya saya pun harus belajar menerima kondisi tersebut dan tentu saja berusaha untuk mengobatinya, dengan harapan sakit pinggang tersebut bisa jauh lebih berkurang ataupun syukur-syukur bisa hilang.
Untuk mengetahui ada masalah pada tulang belakang, sebenarnya bisa dipertegas dengan pemeriksaan medis. Antara lain dengan pemeriksaan CT Scan pada tulang belakang ataupun langsung mengunakan Bone scan yang bisa melihat sejauh mana penyebaran kanker pada tulang dalam tubuh.
Berhubung di tempat tinggal saya, Kaltim, hanya tersedia CT Scan, salah satunya tempat saya berobat yaitu RS Umum AWS Syahranie, maka dokter tulang waktu itu merujuk saya langsung untuk CT Scan ke bagian radiologi. Saya berharap, di masa yang akan datang pemprov Kaltim dapat menyediakan peralatan yang lebih canggih khususnya untuk pasien kanker. Amin.. . Dari hasil CT Scan tersebut sudah dapat terlihat bagaimana kondisi tulang belakang saya yang tidak cantik lagi
Sebenarnya ada beberapa jenis kanker yang biasanya bermetastase ke tulang bila berada di stadium lanjut. Yaitu kanker tiroid (seperti yang saya derita), kanker payudara, kanker paru, kanker hati, kanker usus, kanker prostate, dan beberapa kanker lainnya. Biasanya yang sering terjadi pada metastase tulang yaitu pada tulang belakang, tulang pinggang, paha, tulang rusuk, tulang tengkorak, tulang pelvis. Pada kasus saya, terjadi pada tulang belakang.
Metastase pada tulang yang disebabkan oleh kanker tiroid yang saya derita, tidak sama dengan kanker yang timbulnya dari tulang itu sendiri. Hal ini disebabkan sel kanker yang terlepas dari kanker utama (tiroid) dan masuk ke dalam aliran darah. Sel kanker ini lalu tinggal ditulang dan mulai membelah diri.
Gejala Metastase Kanker pada Tulang : Waspadai Sakit Pinggang yang Terus Menerus
Sebenarnya metastase pada tulang kerap di tunjukkan dengan gejala-gejala tertentu. Namun kadang, karena ketidaktahuan kita, sering kita mengganggap gejala tersebut sebagai gejala syaraf kejepit seperti yang dulu saya lakukan . Saat itu saya langsung berlangganan dengan ahli urut syaraf kejepit. Alih-alih pengen sembuh, ternyata rasa sakit bertambah jadi dan kian menyiksa.
Sebenarnya gejalanya bukan hanya rasa nyeri yang luar biasa. Pada kasus-kasus tertentu, nyeri tulang tersebut semakit sakit hingga pasien akan sulit berjalan (seperti yang saya rasakan). Ada pula yang merasa lemas atau mati rasa pada bagian yang syarafnya terkena kanker. Disamping itu bisa menimbulkan masalah pada buang air kecil .
Apabila memang terjadi tekanan akibat metastase pada syaraf tulang belakang, biasanya menimbulkan mati rasa, sakit dan kaki yang melemah serta berberapa daerah, mual, haus, Konstipasi, Kelelahan, Merasa bingung, tidak tenang. Sedangkan apabila ada kelebihan kalsium yang dikeluarkan dari tulang yang terkena metastase, maka mungkin mengakibatkan kurang nafsu makan, mual, lelah.
Pengobatan pada metastase tulang
Apabila pasien kanker sudah merasakan gejala-gejala seperti diatas, ada baiknya sesegera mungkin berkonsultasi kepada dokter. Karena bila di biarkan, maka kondisi pasien akan semakin parah dan tentu saja sangat menyiksa.
Biasanya pasien yang mengalami metastase tulang akan diterapi obat jenis khusus yang merupakan golongan bisphosphonate, antara lain Bondronate. Saya sendiri di berikan terapi obat Bondronate oleh dokter. Dosis pemberian obat ini dilakukan 1 bulan sekali atau hitungan 4 minggu sekali. Karena obat ini sangat keras, maka pemberiannya di berikan melalui saluran infus. Untuk jangka waktu pemberian bondronate ini pun bermacam-macam, tergantung dari sejauh mana metastase kanker pada tulang tersebut. Tetapi menurut dokter saya, biasanya minimal 8 kali. Saat ini saya sudah menggunakan bendronate sebanyak 3 kali.
Bondronate ini berguna untuk menahan agar tulang tidak mengalami kerusakan lebih parah akibat metastase kanker tersebut.Disamping itu mengurangi rasa sakit, menjaga tulang tetap kuat dan kalsium dalam darah berada dalam kondisi normal.
Harga Bondronate ini lumayan mahal, bahkan sangat mahal menurut saya hehehe. Satu kali bondronate seharga 3,8 juta, dan itu belum termasuk biaya infus, perawatan nginap di rumah sakit. Sebenarnya untuk pemakaian bondronate, pasien tidak akan mengalami efek yang berarti. Biasanya hanya demam, meriang, pusing dan terkadang pada saat awal-awal, tulang menjadi ngilu-ngilu walaupun hanya sebentar. Namun biasanya dokter meminta saya untuk mengambil nginap di rumah sakit semalam pada saat pemberian suntikan bondronate. Hal ini untuk mengantisipasi efek pemberian bondronate.
Syukur alhamdulillah, saat ini kondisi tubuh saya, khususnya di bagian tulang belakang sudah mengalami peningkatan. Walaupun terkadang masih terasa ngilu dan pegel, terutama bila capek, tetapi hal itu tidak terlalu mengganggu. Kalau pun sakitnya sudah mulai usil menganggu aktifitas, saya sudah menyiapkan obat Kettese dan Ultracet sebagai penahan nyeri dan pereda rasa sakit hasil resep dari dokter hehehe..
Oh ya sedikit cerita mengenai saat saya mengalami sakit yang luar biasa di tulang belakang. Sebenarnya ini memori yang tidak pahit dan ingin saya buang ke laut hehehe.. Tapi berhubung ini bagian dari pengalaman yang ingin saya bagikan agar pembaca bisa mengantisipasi gejala-gejala tersebut.
Sebenarnya sakit pinggang itu berlangsung sejak lama, tepatnya tahun 2011 setelah kelahiran anak saya yang bungsu. Namun karena waktu itu asumsi sakit syaraf kejepit, jadilah saya pasien tetap urut syaraf kejepit.
Sebenarnya bila sakit tersebut hanya sakit syaraf kejepit, insya allah bisa sembuh bila ditanganin ahli syaraf kejepit. Terbukti begitu banyak pasien yang sembuh karenannya. Namun karena kasus saya ini adalah metastase tulang belakang yang berasal dari tulang yang keropos dan mengakibatkan syaraf-syarafnya kejepit. Tentu akan beda masalahnya.
Saya tidak bisa cerita lagi bagaimana sakit yang ditimbulkan dengan kondisi tersebut. Bergerak saja, akan muncul seperti setrum di daerah paha dan kaki. Rasanya? Wah, sakit luar biasa. Bahkan untuk bangun tidur, ataupun ingin menggeletakkan tubuh untuk tidur, saya perlu waktu cukup lama untuk melakukannya. Begitu pula untuk duduk dan berdiri. Mengapa? Ya, karena sakit yang luar biasa . Ajaibnya lagi, pada posisi terbaring, bagian paha dan kaki saya bisa berdenyut dan menghasilkan sensasi luar biasa. Biasanya kalau sudah begitu, tidur pun akan sulit dan pikiran menjadi bingung serta gelisah. Obat penahan nyeri pun saat itu tidak membantu banyak.
Tapi bersyukurlah saya bisa melewati fase-fase itu. Semua Berkat dukungan bantuan orang tua, suami, anak, saudara , keluarga dan teman-teman. Walaupun saat ini terkadang rasa nyeri itu muncul, tetapi tidak separah beberapa waktu yang lalu. Setidaknya saya sudah bisa tidur cukup waktu dan melakukan berbagai aktifitas lainnya . Metastase Kanker pada Tulang : Waspadai Sakit Pinggang yang Terus Menerus :)
.jpg)
Read More
.jpg)
Berpartisipasi pada
Kamis, 19 Desember 2013
Aku dan Kanker Tiroid Bagian 4 (terakhir), Tabloid My Mommy : Radioaktif Nuklir pada Kanker Tiroid
Radioaktif Nuklir pada Kanker Tiroid.
Beginikah Rasanya?
Beginikah Rasanya?
Hari Kedua, Reaksi mulai terasa
Berada dalam ruangan isolasi dan mulai merasakan reaksi dari radiasi interna merupakan sesuatu yang tidak terlupakan. Rasa mual, dan pusing, menjadi sebagian reaksi dari radiasi interna. Ada pula yang merasakan badan menjadi ngilu dan linu serta menggigil kedinginan. Lidah pun tidak bisa merasakan nikmat makanan dan kesulitan untuk menelan. Ternyata memang reaksi radiasi interna pada pasien tidak semuanya sama, hal itu tergantung bagaimana dengan kondisi fisik pasien. Karena itu sebaiknya sebelum melakukan radiasi interna, kondisi pasien harus benar-benar sehat dan stabil. Sehingga saat proses reaksi berlangsung, pasien masih kuat untuk menjalaninya. Salah satu keuntungan radiasi interna di RS MRCCC Siloam, selain pelayanan dan fasilitasnya yang bagus, Dokter dan pihak petugas radiasi sangat koperatif dan terus memantau perkembangan pasien. Dokter pun tiap hari memantau langsung kondisi pasien. Pasien pun dapat memilih menu makanan yang di inginkan sesuai list menu yang diberikan pihak rumah sakit.
. Dengan adanya teman sesama pasien Radioaktif Nuklir pada Kanker Tiroid, tentu saja efek reaksi dari radiasi bisa sedikit berkurang. Kami saling menyemangati satu sama lain untuk tetap kuat termasuk untuk urusan makan dan minum yang sudah mulai kehilangan selera. Bagaimana pun kami ingin sembuh dan cepat pulang berkumpul kembali dengan keluarga.
Di hari kedua, Dokter Ivana pun melakukan pengontrolan radiasi kepada pasien. Pasien pun diminta berdiri ditengah-tengah koridor ruangan isolasi, sedangkan Dokter Ivana berdiri sekitar 1 meter di hadapan pasien. Dokter Ivana memakai baju rompi anti radiasi sembari membawa sebuah alat untuk mengukur kadar radiasi pasien.
Setelah mengukur kadar radiasi pasien, Dokter Ivana pun lebih lanjut menganjurkan pasien agar tetap meminum banyak air putih dan makan yang banyak, agar kadar radiasi bisa pun menurun. Ia menanyakan kondisi pasien serta apa yang di rasakan pasien tersebut. Tentu saja waktu tersebut di manfaatkan pasien untuk bertanya lebih lanjut mengenai reaksi radiasi interna.
.
Hari Ketiga, Memompa Semangat
Seperti yang di jelaskan sebelumnya, biasanya efek reaksi antar pasien berbeda-beda. Seperti salah satu pasien, saat bangun tidur, ada rasa yang berbeda pada daerah leher. Ternyata leher sebelah kanan tepat di daerah bekas pembedahan menjadi bengkak. Belum lagi lidah merasa tidak berasa dan sulit menelan. Rasa mual dan mau muntah pun masih tetap terasa. Wah, rasanya benar-benar bingung harus bagaimana. Melihat sarapan pagi yang telah di siapkan di depan pintu, rasanya sudah ingin muntah. Apalagi telah siap 3 botol mineral yang harus di habiskan selama 24 jam. Namun karena keinginan untuk sembuh sangat besar, maka harus memaksakan diri untuk makan dan minum. Beruntung teman pasien sesama radiasi interna selalu menyemangati untuk makan dan minum.
“Ayo semangat untuk makan. Biar cepat sembuh dan pulang. Biar bisa kumpul sama keluarga lagi,”kata Ibu Kartika menyemangati. Dengan memaksakan diri, akhirnya makanan pun bisa masuk kemulut walaupun sedikit. Ternyata dalam kondisi seperti itu, makan buah-buahan merupakan salah satu solusi untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Namun begitu, tetap diusahakan untuk tetap makan nasi serta lauk pauknya.
Hari ketiga pun di lakukan pengontrolan oleh Dr. Basuki dan Dr. Ivana. Kedua dokter yang ramah dan baik hati tersebut memakai rompi anti radiasi dan memegang alat pengukur radiasi. Seperti biasa, pasien di minta berdiri di tengah-tengah koridor, dan dokter mengukur kadar radiasi pasien. Kadar radiasi hari ketiga pun cukup baik penurunannya. Dengan menaati saran dokter untuk banyak minum air putih dan makan, rupanya berpengaruh besar untuk menurunkan kadar radiasi melalui urine, keringat, dan BAB.
Dr Basuki pun memberikan kabar baik bahwa pasien dapat di perbolehkan pulang keesokan harinya. Ini berarti lebih cepat sehari dari jadwal 5 hari yang di rencanakan untuk radiasi interna. Namun sebelumnya, pasien akan melakukan scan seluruh badan dengan mempergunakan alat Gamma Kamera SPECT. Alat ini nantinya akan mendeteksi bagaimana radiasi nuklir iodione 131 menangkap sel-sel kanker tyroid yang berada di dalam tubuh pasien.
Menunggu hari keempat radiasi interna sungguh sangat di nantikan oleh kami. Selain bisa keluar dari kamar isolasi dan berkumpul dengan keluarga, kami pun bisa mengetahui sejauh mana efektifitas radiasi interna terhadap kanker tirodi yang di lakukan selama beberapa hari itu.
Hari Keempat, Akhirnya Selesai Juga
Setelah itu pasien pun di bawa ke lantai 2 di ruangan instalasi kedokteran nuklir MRCCCC Siloam untuk dilakukan scan seluruh tubuh dengan menggunakan alat Gamma Kamera SPECT. Sebelum dilakukan scan, pasien akan diminta berbaring di sebuah pembaringan yang menjadi bagian dari alat Gamma Kamera SPECT. Petugas akan membantu mengatur posisi pasien sesuai dengan posisi alat tersebut. Ketika alat dijalankan, maka secara otomatis posisi pasien akan bergerak sesuai pengaturan dengan computer khusus yang telah di atur sebelumnya. Dalam proses tersebut, Dokter Ivana akan memantau dan mengkontrol proses scan di bantu oleh asistennya. Waktu yang di butuhkan untuk dilakukan scan seluruh badan kurang lebih 30 sampai 45 menit. Berada di dalam sebuah alat canggih tersebut, ternyata menimbulkan rasa penasaran bagi siapa pun. Tentu saja sembari tetap berdoa agar hasil scan tersebut menunjukkan hasil yang memuaskan bagi pasien.
Tidak perlu memakan waktu lama menunggu hasil scan tersebut. Dokter Ivana pun kemudian menjelaskan hasil scan tersebut. Bagaimana efektifitas hasil radiasi internal dapat menangkap sel-sel kanker tyroid yang berada di tubuh. Penangkapan sel-sel yang paling banyak terdapat di daerah leher, tepatnya di tempat bekas pembedahan dahulu. Rupanya sel-sel kanker di tiroid masih tersisa dan akhirnya dapat tertangkap di daerah tersebut. Dokter Ivana pun menjelaskan terapi kelanjutan yang harus di jalankan pasien setelah melakukan radiasi interna. Termasuk memberikan surat pengantar penjelasan kepada dokter Rudi Tharby, yang merujuk pasien untuk radiasi interna. Isi surat itu menjelaskan bagaimana hasil dari scan yang telah di lakukan berserta gambar secara detiilnya. Termasuk mengenai terapi apa saja yang harus dilakukan pasien. Radioaktif Nuklir pada Kanker Tiroid
Tentu saja pengalaman selama 4 hari melakukan radiasi interna merupakan pengalaman yang tidak mungkin di lupakan. Harapannya dengan berbagi pengalaman ini dapat menambah informasi kepada masyarakat mengenai kanker tiroid serta terapi radiasi interna dengan menggunakan iodine 131, khususnya kepada pasien kanker tiroid. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi para pembaca. Amin..
.jpg)
Read More
TAMAT
Berpartisipasi pada
.jpg)
Selasa, 02 Juli 2013
CINTA (bagian 1)
Hari ini saya tergerak menuliskan cerita tentang cinta, tepatnya cinta sejati suami istri.
Jujur saja, saya sendiri terkadang masih ambigu dengan arti Cinta sesungguhnya. Bagi saya, mungkin sama dengan pikiran banyak orang. Cinta itu berarti saling menyayangi dan menghormati satu sama lain. Cinta itu berarti saling menerima kekurangan dan kelebihan masing. Entah berbagai macam pengertian tentang cinta itu sendiri.
Dan pagi ini, saya kembali merenungkan arti cinta sesungguhnya. Tepat ketika saya duduk manis menunggu antrian panjang pasien yang ingin berobat. Saat menuliskan cerita ini, saya sedang duduk diapit 2 pasangan suami istri yang cukup berumur. Satu pasangan di sebelah kanan saya, satu pasangan di sebelah kiri saya.
Di sebelah kanan saya, sepasang suami istri dimana suaminya sakit cukup berat yang terlihat oleh saya. Begitu pula pasangan suami istri sebelah kiri saya. Sang suami terlihat sakit dan kurus sekali, bahkan untuk berjalan pun sang istri harus memapahnya. Banyak hal yang berkecamuk di pikiran saya. Salah satunya bagaimana perasaan ataupun perilaku mereka menghadapi kondisi tersebut.
Saat seseorang dalam kondisi sakit dan diharuskan menjalani pengobatan yang cukup memakan waktu, tentunya banyak hal yang terjadi. Tidak hanya terkait dengan biaya pengobatan, tetapi juga kondisi fisik dan psikis dirinya. Terlebih ketika ia memiliki pasangan. Dalam kondisi sakit, banyak hal yang bisa terjadi. Apakah pasangan nya bisa menerima dan turut mendukung untuk proses pengobatan dan penyembuhan. Ataukah malah pasangan tersebut merasa terbebani dan bahkan ada yang memilih untuk tidak mengurus atau meninggalkannya begitu saja.
Ya, saat itulah sebuah CINTA Sejati sedang diuji. Bagaimana pun kondisi susah, sedih, sakit, gembira ataupun bahagia, semua tidak akan merubah perasaan yang ada. Begitulah yang terjadi pada kedua pasangan yang duduk diantara saya. Dari cara mereka saling berbicara, memperhatikan, bahkan mendengarkan, terlihat dengan jelas bagaimana cinta diantara mereka begitu kuat. Cintalah yang menguatkan mereka untuk tetap kokoh dan kuat dalam kondisi fisik dan psikis yang sedang diuji. Cintalah yang membuat mereka bisa bersemangat dan optimis untuk menjalani hidup. Walaupun badai sedang menerjang mereka, tapi mereka tetap terus bertahan dan melangkah.
Sesaat kemudian saya layangkan pandangan ke depan saya. Tampak sepasang suami istri sedang duduk mendampingi anak perempuan mereka yang berada di kursi roda. Usia anak perempuan mereka, saya perkirakan berkisar 20 an tahun.
Tampak sang istri tampak ceria bercerita untuk menghilangkan jenuh si anak. Sang suami pun tidak berdiam diri. Sesekali suami tersebut menimpali pembicaraan mereka. Bahkan tidak jarang ia memegang dan membelai anak perempuannya. Sampir semua mata orang tertuju kepada sang anak melihat kondisinya. Saat itulah saya lihat bagaimana Cinta kedua orang suami istri kepada anaknya begitu kuat. Dengan cinta, mereka berusaha memberikan suntikan semangat dan dukungan kepada si anak. Dengan cinta, mereka turut mendampingi anak mereka dalam kondisi sulit dan senang.
Ah.. Cinta itu memang rumit dan misteri. Namun bila saya melihat dua kejadian yang berbeda itu, membuat saya kembali berfikir bahwa cinta itu tidaklah rumit dan penuh misteri.
Cinta itu begitu sederhana dan bermakna. Cinta itu begitu bersahaja dan indah. Seperti cinta dua pasang suami istri di samping saya. Seperti cinta kedua orang tua dan anak mereka di depan saya.
@Cijantung, 27 Juni 2013
.....
(Bersambung) Read More
Jujur saja, saya sendiri terkadang masih ambigu dengan arti Cinta sesungguhnya. Bagi saya, mungkin sama dengan pikiran banyak orang. Cinta itu berarti saling menyayangi dan menghormati satu sama lain. Cinta itu berarti saling menerima kekurangan dan kelebihan masing. Entah berbagai macam pengertian tentang cinta itu sendiri.
Dan pagi ini, saya kembali merenungkan arti cinta sesungguhnya. Tepat ketika saya duduk manis menunggu antrian panjang pasien yang ingin berobat. Saat menuliskan cerita ini, saya sedang duduk diapit 2 pasangan suami istri yang cukup berumur. Satu pasangan di sebelah kanan saya, satu pasangan di sebelah kiri saya.
Di sebelah kanan saya, sepasang suami istri dimana suaminya sakit cukup berat yang terlihat oleh saya. Begitu pula pasangan suami istri sebelah kiri saya. Sang suami terlihat sakit dan kurus sekali, bahkan untuk berjalan pun sang istri harus memapahnya. Banyak hal yang berkecamuk di pikiran saya. Salah satunya bagaimana perasaan ataupun perilaku mereka menghadapi kondisi tersebut.
Saat seseorang dalam kondisi sakit dan diharuskan menjalani pengobatan yang cukup memakan waktu, tentunya banyak hal yang terjadi. Tidak hanya terkait dengan biaya pengobatan, tetapi juga kondisi fisik dan psikis dirinya. Terlebih ketika ia memiliki pasangan. Dalam kondisi sakit, banyak hal yang bisa terjadi. Apakah pasangan nya bisa menerima dan turut mendukung untuk proses pengobatan dan penyembuhan. Ataukah malah pasangan tersebut merasa terbebani dan bahkan ada yang memilih untuk tidak mengurus atau meninggalkannya begitu saja.
Ya, saat itulah sebuah CINTA Sejati sedang diuji. Bagaimana pun kondisi susah, sedih, sakit, gembira ataupun bahagia, semua tidak akan merubah perasaan yang ada. Begitulah yang terjadi pada kedua pasangan yang duduk diantara saya. Dari cara mereka saling berbicara, memperhatikan, bahkan mendengarkan, terlihat dengan jelas bagaimana cinta diantara mereka begitu kuat. Cintalah yang menguatkan mereka untuk tetap kokoh dan kuat dalam kondisi fisik dan psikis yang sedang diuji. Cintalah yang membuat mereka bisa bersemangat dan optimis untuk menjalani hidup. Walaupun badai sedang menerjang mereka, tapi mereka tetap terus bertahan dan melangkah.
Sesaat kemudian saya layangkan pandangan ke depan saya. Tampak sepasang suami istri sedang duduk mendampingi anak perempuan mereka yang berada di kursi roda. Usia anak perempuan mereka, saya perkirakan berkisar 20 an tahun.
Tampak sang istri tampak ceria bercerita untuk menghilangkan jenuh si anak. Sang suami pun tidak berdiam diri. Sesekali suami tersebut menimpali pembicaraan mereka. Bahkan tidak jarang ia memegang dan membelai anak perempuannya. Sampir semua mata orang tertuju kepada sang anak melihat kondisinya. Saat itulah saya lihat bagaimana Cinta kedua orang suami istri kepada anaknya begitu kuat. Dengan cinta, mereka berusaha memberikan suntikan semangat dan dukungan kepada si anak. Dengan cinta, mereka turut mendampingi anak mereka dalam kondisi sulit dan senang.
Ah.. Cinta itu memang rumit dan misteri. Namun bila saya melihat dua kejadian yang berbeda itu, membuat saya kembali berfikir bahwa cinta itu tidaklah rumit dan penuh misteri.
Cinta itu begitu sederhana dan bermakna. Cinta itu begitu bersahaja dan indah. Seperti cinta dua pasang suami istri di samping saya. Seperti cinta kedua orang tua dan anak mereka di depan saya.
@Cijantung, 27 Juni 2013
.....
(Bersambung) Read More
Selasa, 21 Mei 2013
CERITA SERU NAIK BUSWAY
OLEH : TRI WAHYUNI ZUHRI
Sebenarnya saya sudah menyusun agenda rapi untuk acara hari itu. Salah satunya bertemu dengan mba Indari Mastuti, di Sarinah Mall, Jakarta. Beliau founder IIDN dan IIDB, serta owner Indscript Creative. Berhubung saya di Jakarta pula, jadi sengaja menyempatkan waktu bertemu.
Bapak pun bersemangat menemani saya ke Sarinah, maklum dari tempat kami menginap di Cijantung sangat jauh. Terlebih kondisi saya yang baru pulih. Rupanya kedua teman bapak pun ingin ikut menemani. Mereka. Ingin jalan-jalan keliling Jakarta. Tentu saja bapak dan saya senang-senang saja. Bukannya ramai-ramai berangkat akan lebih menyenangkan dari pada berdua. Hehehe
Rencana naik taxi blu* B*rd pun berubah. Mereka ingin mencoba naik busway. Rupanya berita tentang busway menarik perhatian, terlebih buat kami orang luar pulau
Berbekal informasi ala kadarnya karena merasa sudah yakin,(saya menyesal nggak tanya lebih banyak hik hik hik), berangkatlah kami berempat naik busway. Pertualangan naik busway pun dimulai.
Pertama dari Cijantung, kami naik angkot dulu sampai ke Pasar Rebo. Di pasar Rebo inilah ada terminal busway. Dengan rasa percaya diri, masuklah kami ke busway dengan membayar Rp. 3500 perorang.
"Mall Sarinah Tamrin turun dimana,pak?" Tanya saya pada penjaga busway.
"Nanti minta turun ke UKI ya, bu,"terangnya sambil tersenyum. Saya pun mengangguk-angguk. Yang lebih menarik, ternyata kami baru tahu kalau untuk penumpang perempuan terdapat lokasi duduk di belakang driver. Jadi ketika teman bapak saya mau berdiri di daerah tersebut, langsung di tegur oleh petugas busway. (Kesalahan pertama karena kurang info heheh).
Karena penuh, bapak berserta kedua temannya tidak dapat tempat duduk. Mereka hanya berdiri dalam bus way sembari memegang pegangan tangan di atas bus way. Sedang saya? Termasuk beruntung. Mungkin karena saya sakit pinggang dan tidak kuat berdiri, seorang penumpang perempuan langsung berdiri dan mempersilahkan saya duduk di tempatnya.
Wow..., betapa takjubnya saya. Padahal ada pula beberapa perempuan yang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk, namun perempuan itu malah mempersilahkan saya duduk.
Setelah beberapa lama saya duduk, saya pun mulai mengamati keadaan di dalam busway. Akhirnya aku bisa naik busway oy!!
Tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah stiker tempelan di kaca busway. Yang inti tulisan di stiker itu, para penumpang agar lebih mendahulukan ORANG TUA, ORANG CACAT dan IBU HAMIL !! (Kesalahan kedua karena kurang info! )
Ampun..! Mungkin karena kondisi tubuh saya yang terlihat mendengkik ketika berjalan (maklum sakit pinggang akut
Tapi tidak apalah, memang kondisi tubuh saya sedang dalam proses pemulihan, dan tidak memungkinkan berdiri lama. Jadi rasanya tidak masalah, kalau saya pura-pura tidak melihat tulisan di kaca busway tersebut.
"UKI masih jauh ya?"Tanya saya kepada penumpang perempuan di samping saya.
"Masih jauh, mbak. Macet juga,"jawabnya.
Mulailah gelisah hati saya. Padahal saya sudah janjian sama mbak Indari untuk tepat waktu. Rasa curiga pun mulai menyelimuti hati saya, jangan-jangan naik busway ini nggak semudah yang saya bayangkan. Saya lirik Bapak dan kedua temannya masih berdiri sembari mengobrol di bagian tengah busway.
Beberapa waktu kemudian busway akhirnya berhenti di pemberhentian yang dimaksud. Kami berempat pun segera turun
Horeee..
Hati saya bersorak. Berarti saya bisa segera langsung ke sarinah !
Tapi tidak seperti yang saya pikirkan. Ternyata dari tempat itu kami harus melanjutkan lagi perjalanan dengan busway berbeda serta tujuan baru.
Whattttt????
(Kesalahan Ketiga karena kurang Info)
Saat itu saya merasa orang paling aneh sedunia. Terlebih bapak dan kedua teman bapak sama-sama terkaget-kagetnya dengan saya. Ampun!! Rupanya kami berempat merasa yakin saja mempergunakan busway bakal mudah.
Saya langsung menepok jidat. Kenapa saya tidak mencari info lebih detiil mengenai pemakaian busway. Mengikuti ketiga orang bapak yang seyakin saya, padahal kurang informasi, sama saja bunuh diri hihihi..
Mulailah pertualangan kami dengan bus selanjutnya. Ternyata bus itu lebih penuh dan sesak dari sebelumnya. Dan seperti kejadian di busway pertama, tanpa diminta seorang penumpang berdiri dan mempersilahkan saya untuk duduk di tempatnya
Perjalanan bus kedua ini ternyata cukup panjang. Selain berhenti beberapa kali di tempat pemberhentian, penumpang bus terus penuh dan sesak.
Ternyata hal itu berpengaruh terhadap saya. Sakit pinggang dan rasa linu di paha mulai saya rasakan. Tambah merana rasanya
Saya melihat wajah bapak yang pucat.Selama ini bapak tidak pernah menaiki bus dengan berdiri dan kondisi penuh. Maklum, ditempat asal kami tidak ada bus kota, apalagi busway hehehe. (Benar-benar katro !!! OMG !!)
Beruntung lokasi tempat pemberhentian busway Semanggi telah dekat. Bapak terlihat sangat pucat dan keringat dingin. Begitu turun, segera kami menyusuri tangga bus way.
"Bapak kuat nggak?"Tanyakku kuatir. Kuliat bapak sudah mulai berjalan pelan. Aku pun sampai lupa dengan sakit pinggangku karena melihat kondisi bapak.
"Kepala bapak pusing, sesak nafas. Tadi sesak betul di busway,"kata bapak dengan lemas. Kedua teman bapak sama kuatirnya denganku. Maklum, bapak punya penyakit mag dan jantung.
"Ayo, pak. Kita jalan pelan-pelan. Tuh ada mall semanggi. Kita istirahat dulu disitu,"kataku sembari menunjuk mall di depanku.
"Lho, tapi janjianmu jam berapa? Nanti telat?"
Aku menggeleng,"insya allah, nggak apa-apa. temanku pasti ngerti kok, pak. Kan emergency nih".
Mulailah kami berempat menyusuri jalan penyerbangan busway. Kami baru tahu, ternyata setelah turun busway, kita tidak bisa langsung turun di tepi jalan seperti bus biasa, tetapi harus menyelusuri jalan khusus penumpang busway. Bentuknya pun naik turun dan berkelok-kelok. Walaupun tidak berupa anak tangga, tetap saja membuatku harus mengeluarkan energi penuh. Jaraknya? Ampppuuunnn.. Jauh bangettt !! (Kesalahan Keempat karena kurang Info)
Ternyata yang lebih parah, kami salah mengambil jalan. Seharusnya tembus ke Mall belok kanan, tetapi kami belok kiri. Padahal dari atas jembatan penyerbangan tersebut telah tertulis arah tujuan. Dan kami tidak memperhatikannya karena sok yakin... Haduuuhhh..
(Kesalahan Kelima karena kurang Info)
Ya.. Bisa ditebak deh, kami bukannya menemukan ujung jembatan untuk turun, tetapi malah bertemu terminal busway selanjutnya!
Lemes, capek, pegel dan mau nangissss!! Ini deh akibatnya kalo sok yakin dan sok tahu tentang busway. Hik hik hik..
Bapak pun langsung terduduk lemas di kursi. Badannya panas dingin dan sakit kepala. Kedua temannya ikut-ikutan bingung.
Karena bingung, aku pun berinisiatif menanyai petugas loket karcis busway.
"Mbak, kalau mau ke mall itu lewat mana? Kok saya nggak nemuin jalan?"Tanya saya.
"Ibu salah jalan, seharusnya ketika turun tadi, ibu belok kanan. Kan ada petunjuk arahnya",jelas petugas tersebut.
"Trus saya harus bagaimana? Bapak saya sakit. Itu dia lagi duduk,"kata saya sambil menunjuk bapak yang masih lemas di kursi.
"Mbak kalau balik arah lagi lebih jauh. Lebih baik mbak naik lewat jembatan yang itu. Tidak terlalu jauh,"ujarnya sambil menunjuk ke depan. Haaaaa??? Terlihat jalanan naik keatas memanjang dan kemudian berbelok belok berbentuk seperti buntut ular naga!
Mulailah saya panik. "Kalau taxi, apa bisa berhenti? Biar bapak saya bisa naik taxi aja?"
Sebenarnya pertanyaanku cukup aneh, karena aku pun bisa melihat tidak mungkin taxi berhenti di tempat pemberhentian bus way yang cukup tinggi. Memang kita mau turun pakai apa? Loncat???
(Kesalahan ketujuh karena kurang info)
"Nggak bisa bu. Ini khusus jalur khusus jalur cepat. Kami nggak mau ambil resiko,"jelasnya,"satu-satu jalan ibu lewat jalan itu".
Huaaaa....
bagaimana ini? Bapak sudah sesak nafas. kalau menunggu sampai bapak pulih pun tidak mungkin, karena sudah sangat menguatirkan. Setelah berunding dengan kedua teman bapak dan tentu saja menunggu sejenak bapak mengumpulkan tenaga. Akhirnya bapak berjalan dengan bantuan papahan temannya.
Ah.. Perjalanan menyusuri jembatan penyerbangan busway yang kesekian kalinya terasa lama bagiku. Walaupun bapak dalam kondisi berusaha kuat, tetap saja membuatku kuatir. Kuatir kalo bapak tiba-tiba ambruk atau pingsan
Ah.. Perjalanan menyusuri jembatan penyerbangan busway yang kesekian kalinya terasa lama bagiku. Walaupun bapak dalam kondisi berusaha kuat, tetap saja membuatku kuatir. Kuatir kalo bapak tiba-tiba ambruk atau pingsan
"Masih sempat temanmu nunggu di mall?"tanya bapak tiba-tiba. Ya ampun, saat saya mengkuatirkannya, bapak masih sempat-sempatnya bertanya janji temuku.
"Udah gampang aja, pak. Yang penting kita turun dulu dari sini, lalu cari makan ya,"jawabku.
Alhamdulillah, akhirnya ujung jembatan itu berhasil kami lewati. Segeralah kami mencari tempat makan untuk mengisi perut yang keroncongan. Beruntung ada rumah makan disekitar tempat yang kami lewati.
Aku pun menarik nafas lega. Perjuangan naik busway benar-benar mendebarkan! Setelah dihitung-hitung, perjalanan kami hampir 2 jam. Dan kami mungkin berjalan hampir 1 kilometer kali ya menyusuri jembatan penyerbangan busway
Kami pun makan dengan lahap karena kelaparan. Hanya bapak yang makan dengan pelan sekali. Rupanya kepala, badan, dan perutnya masih saling beradu satu sama lain. Tetapi kulihat wajahmu tidak sepucat tadi.
"Nanti abis ini kita ke Sarinah langsung aja naik taxi. Kasian temanmu nunggu,"kata bapak tiba-tiba.
Aku melongo. Aku sudah dibuat panik karena bapak drop. Eh, bapak malah kepikiran janjiku dengan teman.
"Kita pulang aja, pak. Bapak masih capek,"sahutku santai. Padahal dalam hatiku masih tidak karu-karuan.
"Nggak apa-apa dengan temanmu?"Tanya bapak.
"Nggak apa-apa, pak. Toh kami bisa bertemu lain waktu,"sahut saya.
Walaupun perjalanan ke sarinah hanya sekitar 15-30 menit. Kepala saya masih fokus untuk tetap memikirkan kondisi bapak. Bagaimana nanti kalau tiba-tiba bapak drop atau bahkan pingsan? Wah, bisa berabe! Yang jelas saya bakal di gantung mama!
Dan akhirnya bapak mengikuti ajakan saya. Kami berserta teman bapak akhirnya pulang kembali ke Cijantung dengan menggunakan taxi. Perjalanan itu memakan waktu 30 menit dan hanya mengeluarkan uang Rp. 80.700 ! Sedangkan menggunakan busway, memang Rp. 14000 (4 orang), namun membuat bapak drop dan sakit pinggang dan kaki saya kambuh !!
It's wonderfull Journey
Note :
-selalu mencari informasi sebanyak-banyaknya dalam melakukan perjalannya. Khususnya pada kota yang akan kunjungi serta transportasi yang digunakan !!! Biar nggak kesesat seperti saya
Jumat, 13 April 2012
Denger lagu Adele, Ingat Ais .... :)
Suatu ketika, sahabat saya, Ais, mengirimkan sebuah lagu via BB.
"Yay.., aku lagi suka lagu ini. lagu Adele, Some One Like You. Dengerin ya. Aku kirim ke kamu,"ujar via telpon.
Saya pun langsung mengkonfirm kiriman lagu tersebut. Penasaran dengan lagunya, langsung saya setel lagu tersebut setelah menerima filenya. Wow..., ini lagu apa ya? Batin saya saat itu. Apa sih enaknya lagu ini. Kok kayanya lebih banter suara penyanyi dari pada musiknya hehehe..
Tapi ternyata, setelah di dengar beberapa kali, baru saya paham mengapa Ais suka banget lagu ini. selain karakter suara si Adele sang penyanyi yang luar biasa bagus, lirik lagunya pun sangat menyentuh hati. Terlebih, belakangan ini saya sering mendengar banyak orang menyanyikan lagu ini. Salah satu saat Regina, finalis Indonesian Idol 2012 menyanyikan lagu ini pada babak spektakuler pertama di Indonesian Idol. Bener-bener memang enak dan menyentuh lagu ini...
Akhirnya, saya pun memasang lagu ini sebagai nada dering saya. Bukan karena saya suka lagunya saja, tetapi karena setiap mendengar lagu Adele ini, saya selalu ingat Ais. Ais, sobat saya yang berada nun jauh di Wonosobo. Sobat yang saya temui pertama kali saat sama-sama menjadi mahasiswa baru dan di ospek bersama-sama.. Begitu banyak kenangan saya bersamanya. Mendengar lagu ini, mengingatkan saya tentang dirinya. hehehe....
Suatu saat... kita akan bertemu lagi ya sobat.... :)
miss u so much...
Read More
"Yay.., aku lagi suka lagu ini. lagu Adele, Some One Like You. Dengerin ya. Aku kirim ke kamu,"ujar via telpon.
Saya pun langsung mengkonfirm kiriman lagu tersebut. Penasaran dengan lagunya, langsung saya setel lagu tersebut setelah menerima filenya. Wow..., ini lagu apa ya? Batin saya saat itu. Apa sih enaknya lagu ini. Kok kayanya lebih banter suara penyanyi dari pada musiknya hehehe..
Tapi ternyata, setelah di dengar beberapa kali, baru saya paham mengapa Ais suka banget lagu ini. selain karakter suara si Adele sang penyanyi yang luar biasa bagus, lirik lagunya pun sangat menyentuh hati. Terlebih, belakangan ini saya sering mendengar banyak orang menyanyikan lagu ini. Salah satu saat Regina, finalis Indonesian Idol 2012 menyanyikan lagu ini pada babak spektakuler pertama di Indonesian Idol. Bener-bener memang enak dan menyentuh lagu ini...
Akhirnya, saya pun memasang lagu ini sebagai nada dering saya. Bukan karena saya suka lagunya saja, tetapi karena setiap mendengar lagu Adele ini, saya selalu ingat Ais. Ais, sobat saya yang berada nun jauh di Wonosobo. Sobat yang saya temui pertama kali saat sama-sama menjadi mahasiswa baru dan di ospek bersama-sama.. Begitu banyak kenangan saya bersamanya. Mendengar lagu ini, mengingatkan saya tentang dirinya. hehehe....
Suatu saat... kita akan bertemu lagi ya sobat.... :)
miss u so much...
Jumat, 12 Desember 2008
Hati Seluas Samudera
Anak perempuan berumur kurang lebih 9 tahun itu bernama Mega. Kami bertemu di bus saat ia dan ibunya berangkat dengan tujuan yang sama denganku. Saat itu aku sedang dalam perjalanan menuju kota Balikpapan, setelah mendapat kabar bahwa suamiku sedang sakit di sana.
Sosok Mega sama dengan anak-anak seusianya. Wajahnya pun terlihat Manis dengan senyum polosnya. Siapa saja yang melihat senyumnya pasti akan tersenyum membalasnya, termasuk aku yang duduk bersampingan dengannya.
Semula aku tidak begitu memperhatikan keganjilan pada sosok Mega, sampai saat Ibunya menceritakan tentang Mega padaku.Mega terlahir tepat pada saat pengangkatan Ibu Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden saat itu. Ayahnya langsung menamainya dengan nama Mega, begitu ia mengetahui bahwa anak yang dilahirkan istrinya adalah seorang bayi perempuan.
Tidak banyak perbedaan mencolok ketika Mega masih berusia bayi dengan bayi-bayi lainnya. Tingkah lakunya pun tetap lincah sampai menginjak balita. Namun, ada sedikit perbedaan yaitu Mega jarang sekali berbicara. Dan hal itu akhirnya menjadi salah satu tanda yang membuat perbedaan itu semakin mencolok.
Semakin bertambah umur, kemampuan komunikasi Mega bisa dikatakan sangat minim. Sang Ibu pun agak kerepotan mengurusnya, karena di tambah dengan sikap Mega yang tidak bisa mandiri.
“Saya tidak tega melepas Mega kemana-mana, bu,”ujar sang Ibu kepadaku,”kondisinya seperti ini, kemana-mana tergantung sama saya. Saya tidak ingin merepotkan orang lain juga.”
Sang Ibu berbicara dengan nada tegar. Aku terenyuh mendengarnya.
“Selama ini Mega sudah berobat, bu?” tanyaku dengan hati-hati karena takut menyinggung perasaannya.
“Saya sudah bawa berobat kemana-mana, bu. Tapi ya kami ini orang miskin, jadi ya susah juga. Walaupun pakai askes orang miskin untuk berobat, tapi tetap saja tidak sanggup menanggung biayanya”, kata sang ibu sambil menerawang,”sampai pernah bu, saya pergi berobat hanya pegang uang untuk ongkos angkot pulang pergi saja”.
“Sekarang Mega sekolah, bu?”
“Sudah sekolah, bu. Tapi sekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa).”
“SLB?”tanyaku kembali kurang yakin.
Aku mengernyitkan dahi. Tidak kutemukan satu pun kekurangan fisik pada tubuh Mega. Karena setahuku, SLB itu di khususkan untuk anak-anak dengan kekurangan salah satu panca indra, bukan untuk anak dengan kebutuhan khusus seperti Mega ini.
“Kami hanya sanggup memasukkan Mega di SLB. Ya syukurlah, sejak sekolah di SLB, Mega sudah bisa berbicara lumayan dari sebelumnya. Misalnya kalau lapar, ia sudah bisa bilang mau makan, bu .” lanjut ibu itu lagi sambil tersenyum.
Aku kembali terenyuh mendengarnya. Seandainya saja saat itu aku di berikan kelebihan materi yang berkecukupan untuk membuat sebuah sekolah yang diperuntukan untuk anak-anak seperti Mega yang berkebutuhan khusus, sudah barang tentu dengan tangan terbuka aku akan membantunya. Namun, hal itu masih menjadi sebuah impian yang sedang aku rintis bersama suami. Tapi aku yakin impian itu akan terwujud, dan anak-anak seperti Mega dapat menikmati pendidikan sesuai dengan kebutuhan khususnya.
“Mega mau roti?” kataku sambil menawarkan roti yang tinggal separuh yang kusiapkan dari rumah orang tuaku tadi.
Sekilas Mega melirik kearah Ibunya untuk meminta persetujuan. Sang Ibu pun mengangguk ke arahnya. Dengan malu-malu, ia menerima roti dariku.
Alhamdulilah, batinku. Setidaknya aku bisa berbagi roti yang kubawa dari rumah dengannya. Roti itu sebagai awal persahabatan kami. Dan aku yakin, kelak aku akan bertemu kembali lagi dengannya di lain desempatan yang tidak terduga seperti saat ini.
Allah memberikan kekuatan dan kesabaran yang sangat luar biasa bagi sang Ibu lewat perjuangannya mendidik Mega.
Sepintas aku kembali teringat akan Arya dan Raisyah, buah hatiku yang saat itu kutitipkan pada orang tua ku di Samarinda. Tadi pagi sebelum naik bus menuju Balikpapan, aku sempat membentak Arya karena menangis sambil merengek ingin ikut ke Balikpapan menjenguk papanya.
Aku benar-benar malu dengan ibu itu. Kesabarannya dalam mendidik Mega dengan kebutuhan khusus benar-benar mengusik perasaanku sebagai seorang Ibu yang selama ini lebih banyak tidak bisa mengontrol emosi dan amarah bila menghadapi anak.
“Selanjutnya apa yang ingin ibu lakukan pada Mega?”tanyaku lagi.
“Ibu cuman ingin ia bisa mandiri, mba. Karena bila saya sama bapaknya sudah meninggal, siapa lagi yang bisa mengurus dia selain dirinya sendiri”.
Aku terdiam. Benar-benar permintaan sederhana dari seorang Ibu yang memiliki hati dan kesabaran seperti Ibunya Mega. Aku bisa merasakan cinta dan kasih sayang yang tulus dari sang Ibu dari setiap kata maupun belaian sayangnya kepada Mega.
Mudah-mudahan Allah memberikan jalan yang terbaik untuk Mega dan Ibunya dalam kehidupan ini. Dan hidayahkan rejeki dan petunjuk-Mu kepada sang Ibu yang memiliki hati seluas samudera itu… Amin… Read More
Sosok Mega sama dengan anak-anak seusianya. Wajahnya pun terlihat Manis dengan senyum polosnya. Siapa saja yang melihat senyumnya pasti akan tersenyum membalasnya, termasuk aku yang duduk bersampingan dengannya.
Semula aku tidak begitu memperhatikan keganjilan pada sosok Mega, sampai saat Ibunya menceritakan tentang Mega padaku.Mega terlahir tepat pada saat pengangkatan Ibu Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden saat itu. Ayahnya langsung menamainya dengan nama Mega, begitu ia mengetahui bahwa anak yang dilahirkan istrinya adalah seorang bayi perempuan.
Tidak banyak perbedaan mencolok ketika Mega masih berusia bayi dengan bayi-bayi lainnya. Tingkah lakunya pun tetap lincah sampai menginjak balita. Namun, ada sedikit perbedaan yaitu Mega jarang sekali berbicara. Dan hal itu akhirnya menjadi salah satu tanda yang membuat perbedaan itu semakin mencolok.
Semakin bertambah umur, kemampuan komunikasi Mega bisa dikatakan sangat minim. Sang Ibu pun agak kerepotan mengurusnya, karena di tambah dengan sikap Mega yang tidak bisa mandiri.
“Saya tidak tega melepas Mega kemana-mana, bu,”ujar sang Ibu kepadaku,”kondisinya seperti ini, kemana-mana tergantung sama saya. Saya tidak ingin merepotkan orang lain juga.”
Sang Ibu berbicara dengan nada tegar. Aku terenyuh mendengarnya.
“Selama ini Mega sudah berobat, bu?” tanyaku dengan hati-hati karena takut menyinggung perasaannya.
“Saya sudah bawa berobat kemana-mana, bu. Tapi ya kami ini orang miskin, jadi ya susah juga. Walaupun pakai askes orang miskin untuk berobat, tapi tetap saja tidak sanggup menanggung biayanya”, kata sang ibu sambil menerawang,”sampai pernah bu, saya pergi berobat hanya pegang uang untuk ongkos angkot pulang pergi saja”.
“Sekarang Mega sekolah, bu?”
“Sudah sekolah, bu. Tapi sekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa).”
“SLB?”tanyaku kembali kurang yakin.
Aku mengernyitkan dahi. Tidak kutemukan satu pun kekurangan fisik pada tubuh Mega. Karena setahuku, SLB itu di khususkan untuk anak-anak dengan kekurangan salah satu panca indra, bukan untuk anak dengan kebutuhan khusus seperti Mega ini.
“Kami hanya sanggup memasukkan Mega di SLB. Ya syukurlah, sejak sekolah di SLB, Mega sudah bisa berbicara lumayan dari sebelumnya. Misalnya kalau lapar, ia sudah bisa bilang mau makan, bu .” lanjut ibu itu lagi sambil tersenyum.
Aku kembali terenyuh mendengarnya. Seandainya saja saat itu aku di berikan kelebihan materi yang berkecukupan untuk membuat sebuah sekolah yang diperuntukan untuk anak-anak seperti Mega yang berkebutuhan khusus, sudah barang tentu dengan tangan terbuka aku akan membantunya. Namun, hal itu masih menjadi sebuah impian yang sedang aku rintis bersama suami. Tapi aku yakin impian itu akan terwujud, dan anak-anak seperti Mega dapat menikmati pendidikan sesuai dengan kebutuhan khususnya.
“Mega mau roti?” kataku sambil menawarkan roti yang tinggal separuh yang kusiapkan dari rumah orang tuaku tadi.
Sekilas Mega melirik kearah Ibunya untuk meminta persetujuan. Sang Ibu pun mengangguk ke arahnya. Dengan malu-malu, ia menerima roti dariku.
Alhamdulilah, batinku. Setidaknya aku bisa berbagi roti yang kubawa dari rumah dengannya. Roti itu sebagai awal persahabatan kami. Dan aku yakin, kelak aku akan bertemu kembali lagi dengannya di lain desempatan yang tidak terduga seperti saat ini.
Allah memberikan kekuatan dan kesabaran yang sangat luar biasa bagi sang Ibu lewat perjuangannya mendidik Mega.
Sepintas aku kembali teringat akan Arya dan Raisyah, buah hatiku yang saat itu kutitipkan pada orang tua ku di Samarinda. Tadi pagi sebelum naik bus menuju Balikpapan, aku sempat membentak Arya karena menangis sambil merengek ingin ikut ke Balikpapan menjenguk papanya.
Aku benar-benar malu dengan ibu itu. Kesabarannya dalam mendidik Mega dengan kebutuhan khusus benar-benar mengusik perasaanku sebagai seorang Ibu yang selama ini lebih banyak tidak bisa mengontrol emosi dan amarah bila menghadapi anak.
“Selanjutnya apa yang ingin ibu lakukan pada Mega?”tanyaku lagi.
“Ibu cuman ingin ia bisa mandiri, mba. Karena bila saya sama bapaknya sudah meninggal, siapa lagi yang bisa mengurus dia selain dirinya sendiri”.
Aku terdiam. Benar-benar permintaan sederhana dari seorang Ibu yang memiliki hati dan kesabaran seperti Ibunya Mega. Aku bisa merasakan cinta dan kasih sayang yang tulus dari sang Ibu dari setiap kata maupun belaian sayangnya kepada Mega.
Mudah-mudahan Allah memberikan jalan yang terbaik untuk Mega dan Ibunya dalam kehidupan ini. Dan hidayahkan rejeki dan petunjuk-Mu kepada sang Ibu yang memiliki hati seluas samudera itu… Amin… Read More
Sabtu, 29 November 2008
Ketika Harus Berfikir dan Berjiwa Besar
Setiap kali saya mengulang membaca buku Berfikir dan Berjiwa Besar karangan David J, ada hal menggelitik di benak saya. Bagaimana tidak, di buku itu selalu mendorong kita agar selalu berfikir serta berjiwa besar dalam menghadapi segala persoalan dalam hidup. Awalnya terlihat sangat sepele bagi kita untuk selalu berfikir dan berjiwa besar. Namun kenyataannya, bila mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari, bisa saya katakan itu menjadi sangat luar biasa sekali bila anda ataupun saya mampu dengan IKLAS melakukannya.
Mengapa saya katakan dengan demikian? Karena tidak semua orang ketika dihadapkan sebuah posisi untuk berfikir dan berjiwa besar mampu melakukan secara IKLAS. Berdasarkan beberapa pengalaman dan fakta yang ada, ketika seseorang dihadapan sebuah persoalan dan menuntut ia harus berfikir dan berjiwa besar, maka tak semuanya melakukan dengan rasa IKLAS. Beberapa diantaranya bahkan dilakukan karena kondisi yang benar-benar karena faktor keterdesakan saat hal itu terjadi sehingga mengharuskan ia harus berfikir dan berjiwa besar.
Ada sebuah pengalaman Pribadi yang ingin saya bagikan kepada anda. Beberapa waktu yang lalu, saya dan suami telah merencanakan sebuah perjalanan bisnis yang di barengi dengan liburan keluarga. Kami berdua sengaja merencanakan berbarengan karena mengingat efisiensi waktu tentunya.
Rencana perjalanan bisnis yang kami lakukan waktu itu untuk memperluas jaringan aset kami di pulau jawa. Sehingga ada 3 kota yang menjadi tujuan kami, yaitu Malang, Surabaya dan Bandung. Dalam perjalanan bisnis itu, ada 2 orang team kami dari Kaltim yang akan bertemu dengan team lainnya dari Surabaya di kota terakhir yaitu Bandung.Suami saya telah merencanakan planning yang sangat matang untuk urusan bisnis kali ini, khususnya untuk di kota Bandung nantinya. Karena di kota Bandung inilah, kami bersama te tersebut akan bertemu dengan top leader dalam pengembangan jaringan usaha bisnis kami.
Suami saya memang sangat menantikan pertemuan dengan top leader tersebut dari jauh hari. Telah banyak visi dan misi yang ingin ia sheringkan dengan beliau dalam pengembangan jaringan aset kami. Dan pertemuan di kota Bandung nantinya, benar-benar moment yang tepat bagi nya sekaligus ia berharap 2 orang team kami akan belajar banyak dengan top leader tersebut.
Tapi bila manusia berencana, tetap saja Allah juga menentukan. Tepat pada hari keberangkatan kami ke Bandung dari Surabaya. Suami saya mengalami drop tubuh akibat kelelahan dalam aktifitas perjalanan bisnis kami beberapa hari sebelumnya.
Mengingat kondisi suami yang benar-benar drop saat itu, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk tinggal di Surabaya untuk berobat. Sedangkan 2 team kami bersama team lain dari Surabaya melanjutkan perjalanan ke Bandung.
Saya bisa melihat rasa sedih dan kecewa dari raut sorot mata suami yang saat itu harus opname di salah satu klinik di Surabaya. Namun dia benar-benar berjiwa besar dengan penuh keiklasan. Dalam kondisi drop yang benar-benar parah, ia tetap memberikan support dan dukungan kepada teamnya via ponsel.
Saat itu saya menangis. Segala perasaan bercampur aduk jadi satu, dari rasa sedih sekaligus bangga pada sikap suami saya menghadapi keadaan saat itu. Saya tahu, pertemuan dengan top leader tersebut benar-benar sangat di nantikannya dan menjadi impiannya yang selangkah saja akan terwujud. Namun, dalam detik-detik terakhir, impiannya tersebut tertunda karena kondisi fisiknya drop.
“Ma, mengapa sedih?’tanya suamiku saat melihatku menangis.
“Mama Cuma sedih lihat papa ndak bisa pergi ke Bandung. Padahal rencana ke Bandung ini sudah tersusun rapi sejak awal,”kataku sembari sesegukan menangis.
“Nggak apa-apa,ma. Papa iklas kok. Toh, kedua team kita kan sudah ada yang berangkat. Papa yakin pasti Allah punya rencana lebih baik buat kita dari kejadian hari ini. Tadi papa juga udah telpon mereka. Mereka katakan semua sudah bertemu sama leader di Bandung.”katanya menghiburku.
“Papa ndak apa-apa? Ndak kecewa begitu?”tanyaku lagi hati-hati.
Suamiku tertawa.
“Kecewa pastilah. Tapi kan tetap harus berfikir dan berjiwa besar juga. Papa tidak bisa maksain semua sesuai rencana semula mengingat kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Toh ada dua orang team kita yang ke Bandung. Ntar kan papa bisa belajar dari mereka dapatkan saat bertemu leader di Bandung”.
Saat itulah saya langsung memeluk suami yang saat itu sedang terbaring lemah di tempat tidur. Dalam kondisi lemah seperti itu, suamiku tetap bisa meninggalkan egonya untuk berfikir dan berjiwa besar menunda impiannya bertemu dengan top leader tersebut.
“Aku janji sayang. Aku yang akan nanti menemanimu bertemu dengan top leader itu. Hanya kita berdua sayang. Suatu hari itu pasti akan terwujud,”bisikku ke arahnya. Ia membalasnya dengan anggukan.
Kejadian hari itu semakin membuka mataku akan sosok lelaki yang selama 6 tahun ini menjadi suami sekaligus pendamping hidupku. Betapa besar ego yang harus ia runtuhkan untuk tetap berfikir dan berjiwa besar dalam sebuah keiklasan... Dan hal itulah yang membuatku semakin mencintainya.....
Langganan:
Postingan (Atom)




