Tampilkan postingan dengan label Doa dan Harapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa dan Harapan. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Desember 2013

Tentang Persahabatan, Perpisahan dan Kanker




Tentang Persahabatan, Perpisahan dan Kanker
Sebenarnya saya sudah ingin menulis kembali di blog. Namun beberapa hari ini, rasanya jiwa dan perasaan saya telah hilang sebagian. Mungkin masih ingat cerita di blog saya beberapa waktu lalu. Tentang adik perempuan dari sahabat saya yang saat itu dalam kondisi yang tidak cukup baik karena penyakit kanker.
Perkenalan saya dan adik bermula dari salah seorang sahabat saya, menceritakan tentang adiknya tersebut yang kena kanker getah bening. Tentu saja hal itu menjadi sebuah benang merah bagi saya yang saat itu pun sedang tervonis kanker tyroid.
Pertemanan kami yang dimulai dari WA (Whatsapp). Saya ingat betul bagaimana kami saling bercerita tentang diri masing-masing melalui WA. Saya pun sempat menelponnya untuk menanyakan kabar. Bagi saya, pertemanan ini spesial karena Adik merupakan teman pertama saya yang sama-sama menderita penyakit kanker. Walaupun belakangan intensitas komunikasi kami telah jarang seiring masa pengobatan masing-masing. Namun baik saya dan kakaknya biasanya saling bertukar kabar. Kakaknya pun sering pula menceritakan kabar Adik. Doa saya tidak pernah putus untuk kesembuhan Adik.
Hingga beberapa hari lalu, saat Kakaknya mengabarkan kondisi Adik terakhir yang tidak stabil. Tentu saja itu menjadi kesedihan luar biasa bagi saya. Saya mengerti bagaimana perasaan adik, karena saya pun pernah mengalaminya. Walaupun penyakit kankernya telah begitu cepat menyerang orang tubuhnya.
"Ayo.. Kamu pasti kuat, dik."Batin saya berbisik. Saya yakin adik telah berusaha berjuang sekuat tenaga melawan kanker. Semua tidak mudah pastinya. Tapi saya pun yakin begitu besar kekuatan semangat dan kasih sayang orang tua, saudara serta teman-temannya agar Adik bisa sembuh.
Saat menuliskan ini, tidak terasa air mata saya menetes kembali, dan perasaan saya terasa menusuk. Tentang Persahabatan, Perpisahan dan Kanker. Sekarang Adik sudah kembali kepada Allah. Allah memang sangat sayang pada Adik. Bagi saya, Adik tetap sebagai pemenang menghadapi kanker. Adik tetap terus berjuang menghadapi kanker sampai akhirnya menghembuskan nafas. Adik sudah tidak akan lagi merasakan bagaimana kanker menyerang tubuhnya dan menimbulkan rasa sakit dan kepedihan. Adik sudah bahagia disana. Seperti kata kakaknya, wajah Adik begitu bersih dan tersenyum saat meninggal.
Saya yakin Adik telah bahagia di sana. Allah akan memberikan tempat terindahnya untuk Adik disana. Selamat jalan adikku, semangat perjuanganmu telah menginspirasiku dan semua orang yang pernah mengenalmu.Tentang Persahabatan, Perpisahan dan Kanker
Read More

Rabu, 25 Desember 2013

Apakah Mama Akan Meninggal?



Tentang Fenomena Sinetron dan Film Indonesia



"Apakah mama akan meninggal?" Tanya anak saya suatu hari.
"Maksudnya seperti apa?"Tanya saya bingung. Terus terang saya cukup kaget mendengar pertanyaannya.
"Seperti di film itu, Ma. Dia kena kanker, dan akhirnya meninggal,"jawab anak saya pelan.
Hohohoho..rasanya pertanyaan itu menghujam tepat di jantung saya. Rupanya fenomena film dan sinetron Indonesia sekarang yang kerap menampilkan tokoh sakit kanker dan buntut-buntutnya meninggal, menjadi perhatian anak saya. Ia pun lalu menyamakan penyakit kankerku dan kanker si tokoh tersebut.
Well, memang rasanya sangat dramatisir sekali, ketika suatu kisah seorang pasangan muda yang mana salah satunya sakit kanker. Kisah-kisah mengharukan terurai panjang diantara mereka. Bagaimana perjuangannya menghadapi kanker di dampingi sang kekasih tercinta. Bagaimana kekuatan cinta yang akhirnya membuat ia rela menerima kondisi pasangannya dengan iklas dan dibumbui romantika cinta yang manis dan tulus. Atau ada pula yang mengisahkan sepasang anak muda, dimana sang cowok memutuskan sepihak si cewek hanya karena tidak ingin si cewek sedih mengetahui ia sakit kanker. Walaupun akhirnya si cewek pun tahu si cowok terkasih terkena kanker saat detik-detik terakhir ia akan meninggal.
Ah.. Sinetron dan film memang selalu berbumbu romantika. Padahal terkadang tidak seperti kenyataannya. Banyak pasien kanker yang akhirnya bisa kuat dan survive sampai sekarang. Banyak pasien kanker yang akhirnya bisa menerima dan iklas menjalani vonis kankernya.
Kanker seolah-olah menjadi sebuah penyakit yang mematikan dan menakutkan bila di cermati dalam sebuah film dan sinetron. Tentu saja hal ini jadi semacam bias tersendiri, khususnya bagi masyarakat. Sehingga ketika masyarakat mendengar kata kanker, menjadi sebuah nightmare . Terlebih apabila mereka tervonis kanker. Bayangan-bayangan tentang kanker menjadi semacam keraguan tersendiri buat sembuh. 
Mengapa para sineas sinetron atau film tidak membuat kisah perjuangan pasien kanker yang bisa survive dan menginspirasi masyarakat. Oke lah, memang ada 1 atau 2 sinetron atau film yang seperti itu. Kalaupun akhirnya si tokoh meninggal, ia bisa meninggalkan berbagai cerita indah dan kebaikan semasa hidup. Tapi itu masih berbanding sedikit dengan sinetron atau film yang berakhir dengan kisah pilu dan sedih mengenai kanker.
Mengapa tidak menjadikan sinetron atau film sebagai edukasi bagi masyarakat mengenai pemahaman tentang kanker. Tentang bagaimana mereka berusaha survive hidup dan tetap berbuat manfaat bagi orang lain. Bukan sosok yang sakit-sakitkan dan cenderung menyulitkan heheheh.. Ups.. Ini sebenarnya hanya sekelumit kisah yang ingin saya ungkapkan melihat fenomena sinetron dan film sekarang.
"Ma..., mama nggak akan mati kan?"Tanya anak saya lagi.
"Hidup dan mati mama sudah di atur Allah. Kalau pun memang mama nanti meninggal, itu karena memang takdir dari Allah,"ujar saya berusaha menahan air mata.
Ah.. Saya tahu.. Anak-anak saya sangat kuat menghadapi kenyataan bahwa mamanya terkena kanker. Mereka tumbuh jadi anak-anak yang mandiri dan tidak cengeng. Mereka tidak protes bila saat-saat tertentu saya memang tidak cukup kuat menemani mereka bermain ataupun jalan-jalan.
Mereka tahu saya menyayangi dan mencintai mereka dengan cara yang mungkin berbeda dengan ibu lakukan terhadap anak-anaknya. Dengan keterbatasan secara fisik yang kadang tidak stabil, saya berusaha menemani mereka dan tentu saja mendoakan mereka. Bahkan ketika ditanya oleh siapa pun tentang sakit mamanya, mereka akan menjawab mama kena kanker. Mereka pun dengan lantang akan bilang mama sudah sembuh.
Allah sangat baik pada saya. Saat saya tervonis kanker, namun saya tetap berusaha kuat dengan memberikan anugrah anak-anak yang sehat, cerdas, mandiri dan perhatian. Semoga Allah senantiasa melindungi kami sekeluarga... Amin..

26122013
Read More

Kamu Harus Kuat ya Dik !



Tentang seorang Teman
Selama dua hari ini saya agak gelisah setelah mendapat kabar dari seorang sahabat. Sahabat saya mengabarkan kalau adiknya saat ini dalam kondisi yang tidak baik. Sakit kanker yang di derita sang adik sejak belakangan ini rupanya telah bergerak dengan cepat dalam tubuhnya.
Saya mengenal sang adik lewat pertemanan kami di dunia maya. Sahabat saya itu pula yang mengenalkannya kepada saya. Adik perempuannya yang manis tersebut menyambut pertemanan kami dengan baik. Mungkin karena salah satu persamaan, kami sama-sama survivor kanker yang terus berjuang untuk mencapai kesembuhan. Memang jenis kanker kami berbeda, dan tahapan pengobatannya berbeda, namun tetap saja kesamaan kanker, sempat membuat kami menjadi saling curhat dan saling menguatkan. Saya menderita kanker tyroid, dan dia menderita kanker getah bening, namun sama-sama stadium lanjut.


Saat saya terbaring lemah di tempat tidur karena sel-sel kanker mulai usil menyerang bagian tubuh saya, ternyata saat itulah ia pun mengalami hal yang sama di tempat lain. Ya, masalah kanker yang bermetase ditulang belakang pun terjadi padanya. Saya bisa merasakan betapa sakitnya saat cancer pain itu datang, karena saya pun mengalaminya.
Semua pengobatan telah sang adik lakukan, begitu pula dukungan orang tua, keluarga dan teman-teman yang selalu memompakan semangat padanya. Ia tidak pernah menyerah, bahkan ia selalu berusaha mengikuti berbagai pengobatan dan perawatan kanker yang menguras waktu, biaya dan air mata itu.
Saat saya menuliskan ini, kondisi adik manis sedang tidak stabil. Tidak terasa air mata saya pun meleleh di pipi. Ah.. Saya berharap bisa berada disampingnya dan menguatkannya. Tapi apalah daya, jarak begitu jauh memisahkan kami. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan segera mengangkat penyakitnya sehingga ia bisa sembuh dan bertemu dengan saya.  
Seperti janji dulu yang sempat terucap padanya, "Dik, kita sama-sama berjuang untuk sembuh ya, demi orang-orang yang kita cintai," kata saya kala itu via WA.
"iya kak, aku harus kuat demi mama yang sudah menemaniku selama ini,"jawabnya saat itu.
Ayoo dik,, kamu harus kuat ya.. aku selalu mendoakanmu .. :'(


Read More